Selasa, 21 April 2009
Sesekali Lihatlah Ke Belakang ![1]
Sudah berhitung minggu saya meminta kepada pengurus B-AR ARROYAN dan Pengurus KAMMI Daerah untuk meminta menulis mengenai kesan para kader dakwah terhadap kepribadian Almarhumah (Intan Amalan (Ruwaida Mutia). Begitu juga kepada pengurus teras KAMMI Daerah Riau dan Kader Akhwat KAMMI Daerah Riau untuk memberikan pelajaran kepada semua kader dakwah. Gayung itu tidak bersambut dengan semestinya. Akhirnya hari ini selasa, 21 April 2009 jam 14:26 menit saya sedang membereskan peletakan file-file penting yang berupa majalah untuk diatur kembali letaknya sesuai dengan klasifikasinya. Ini adalah tugas rutin saya untuk membereskan klasifikasi file itu karena kerapian terhadap kertas-kertas kerja adalah salah satu dari wajibatul akh (kewajiban aktivis dakwah ) sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Syahid Hasan al Banna.
Saya sedang mengatur pengelompokan kumpulan Buletin Majalah B-Ar yang secara rutin diberikan kepada saya secara cuma-Cuma karena saya dianggap paling tua sekarang di kampus. Pada edisi Muharram 1430 H, no 22 Januari 2009 saya temukan tulisan almarhumah di kolom Hikmah yang berjudul : Sesekali Lihatlah Ke Belakang. Semoga tulisan ini dapat memotivasi kitakembali untuk lebih meningkatkan kepekaan imaniyah dan komitmen dakwah dan Tarbiyah Ilallah. Inilah petikannya :
“lihat, ada pelangi!” seorang teman wanitaku menunjuk warna-warni yang muncul di langit sore itu. Keajaiban luar biasa yang jarang bias di nikmati. “Subhanallah, wah indahnya, jarang-jarang ada pelangi di Pekanbaru,” begitulah akhirnya kami membicarakan pelangi itu lima belas menit. Lalu aku teringat ucapan pertamaku tadi,Subhanallah.
Empat tahun berlalu sejak aku mulai memperbaiki gaya bicaraku, dulunya apa yang keluar dari mulutku adalah kata dan kalimat yang tidak disaring, nyerocos jarang bisa dibendung, meskipun kalimat itu tidak bertujuan. Tersandung, umpatan. Hujan, umpatan. Keseleo, umpatan. Maagku kumat, umpatan. Lalu oleh teman-temanku, aku diajarkan untuk mengucapkan kalimat yang indah, sopan dan penuh makna, bukan kalimat yang yang sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Dan aku harus mengucapkannya hanya untuk satu alas an, karena Allah.
Empat tahun yang lalu juga berlalu sejak aku mulai mengejar dua orang teman, di awal semester, aku hanya ingin mencari kegiatan. Kuikuti mereka hingga ke sebuah ruangan yang juga ramai oleh teman-teman seusiaku dari berbagai fakultas. Ada apa ini? Ternyata aku disuruh untuk membaca Alqur’an. Aku Gagap. Namun mulai kunikmati saat itu hingga kini, sejuknya, tenangnyaarti dan makna kalimat itu begitu memberikan pelajaran. Setiap selesai sholat fardhu, senandung Al-Qur’an mulai kulafazkan. Dan itu berawal dari emapat tahun yang lalu. Dan aku harus melafazkannya hanya dengan satu alas an, karena Allah.
Sudah empat tahun sejak aku mulai meninggalkan celana dan jilbab yang pendek. Ku ganti dengan rok dan jilbab yang sedikit tebal dan menutupi rambut. Mungkin orang-orang berpikir aku alim sekarang, mereka salah besar, aku masih harus belajar lagi, dan sekali seminggu aku belajar dengan seorang kakak. Dan kakak itu sudah pasti harus belajar lagi dengan kakak yang lainnya, meskipun kuliahnya sudah lama tamat namun belajar bukanlah hal yang bisa diakhiri begitu saja. Sudah empat tahun sejak sekali dalam sepekan aku mulai belajar dan belajar untuk sebuah perubahan.
Sebelum empat tahun yang lalu, aku tidak pernah suka berdekatan dengan ibu. Malu, malas dan kesal selalu. Setiap meminta, ibu pasti selalu mengatakan,”sabar ya nak, belum bisa ibu berikan. Minta sama Allah saja deh.” Aku tidak pernah mau menerima alas an seperti itu sehingga empat tahun yang lalu, kudengarkan sebuah adegan yang menggetarkan hati, seorang anak yang rela menggendong ibunya berkeliling ka’bah, hanya dengan satu alasan, karena Allah. Lantas ia langsung mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke dalam syurga.
Itu semua berawal empat tahun yang lalu, aku telah pindah meninggalkan kalimat umpatanyang tidak berguna dan mulai mengisi waktu dengan Al-Qur’an, aku telah meninggalkan celana dan mulai menggunakan rok yang seharus nya digunakan kaum hawa. Aku juga belajar dan belajar terus hingga hanya maut yang dapat memisahkan kami. Dan semuanya kulakukan karena Allah.
Saudaraku, lihatlah sesekali ke belakang agar kita tahu apa-apa yang telah kita lakukan sebelumnya, kalau baik, maka pertahankan ia. Namun jika itu tidak baik bahkan sia-sia, maka tidak ada ruginya jika kita menggantikan hal itu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan berguna, dan itu kita lakukan hanya karena Allah. Karena, Allah akan membalas apa yang kita lakukan walaupun kita hanya menyingkirkan duri dari jalan, Allah akan membalasnya. Jangan ragu untuk mempertimbangkan apa-apa yang akan kita lakukan, sebatang duri saja dinilai Allah, apalagi jika kita mampu memberi ratusan orang yang terlantar, atau membangun rumah untuk mereka, atau membantu mengurangi beban mereka.
Saudaraku, tunjukkan syukurmu dengan selalu menebar kebaikan, memperbaiki diri, merenung dan memikirkan nikmat-nikmat Allah. Mudah-mudahan dengan itu semua, keindahan yang hakiki akan kita peroleh. Dunia ini yang hanya bersifat sementara.
“subhanallah, tidak engkau jadikan semua ini sia-sia. Maha suci engkau ya Allah, lindungi aku dari Api Neraka.” (Intan Amlan, Mahasiswa FMIPA-UNRI)
Saudaraku yang dimuliakan oleh Allah SWT, seorang Murabbiku pernah menyatakan belajarlah dari orang yang sudah tiada, Jangan terlalu banyak mengambil teladan dari orang yang masih hidup. Nasehat itu begitu mengena, karena nasehat itu disampaikan ketika Meninggalnya “Syeikhut Tarbiyah, Allahyarham Ust. Rahmat Abdullah.”
“Tulisan adalah hati dan jantung dari sejarah.” Itulah yang dikatakan oleh Ust. Sayyid hasan An Nadwi. Semoga taujihat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien Ya Allah.
(Kamar Kostku,25 Rabiul Awal 1430H/ 21 April 2009M, 15.33 WIB)
Senin, 20 April 2009
Potongan Puzzel Kehidupan
catatan filosofi hidup
MENGAPA OTAK LEBIH KECIL DARI PERUT??
Kalimat ini tidak perlu dijawab tapi di fikirkan, karena yang memang sudah jelas otak itu lebih kecil dari perut.
Terkadang kita harus banyak belajar dengan orang tua, bukan dengan anak muda atau anak kecil saja seperti apa yang telah aku tuliskan sebelumnya. Orang tua perkataannya mengandung makna yang bijak, sekilas mereka seperti kelewat cerewet, nsehat2 terus setiap hari. Tapi mari kita temukan dibalik kecerewetan mereka yang mungkin anak muda tidak bisa mengatakan makna seperti yang terkandung pada ucapan para manula ini.
Beberapa kata-kata mereka yang terus aku ingat adalah, mengapa ukuran otak itu lebih kecil dari perut. Kalimat itulah yang sampai hari ini aku analisa terus. Mungkin Anda yang membaca ini, terfikirkah Anda apa kalimat selanjutnya setelah itu?
Sekilas secara morfologi, perut itu lebih besar ukurannya dibandingkan otak manusia tapi meskipun lebih besar tapi perut itu terbatas isi dan muatannya. Perut akan merasa cukup kenyang dengan memakan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, paling banter nambah sepiring lagi ditambah dengan segelas air (bagi yang makan nya banyak). Setelah itu ia tak sanggup lagi untuk diisi, karena kalau pun dipaksakan ia akan memuntahkan kembali apa yang ada di dalamnya. Sedangkan otak yang ukurannya lebih kecil secara morfologi dibanding dengan perut, tak terbatas isinya. Karena otak berisikan ilmu, fikiran, memori dan catatan apa yang dirasakan dalam kehidupan. Semakin ia diasah dan ditambah maka akan semakain baik bagi pertumbuhan sel-sel otak yang mengikuti selanjutnya. Otak akan semakin baik menyimpan memori jika terus dilatih dengan mengerjakan hal-hal yang rumit dan pelik. Kekayaan otak dalam menyimpan ilmu dan pengetahuan akan menjadikan sesorang bertambah arif, bijaksana dan penuh hikmah dalam menghadapi realistisnya hidup ini. Justeru jika perut itu ditambah dan terus ditambah muatannya, bukan semakin sehat dan bagus bagi pertumbuhannya, melainkan akan mengundang banyak penyakit dan memunculkan potensi penyakit yang sudah ada.
Intinya, sebagai manusia yang sama-sama memiliki otak mari kita kedepankan hal-hal yang bisa memenuhi kebutuhan utama otak dan menjadikan semakin bagus pertumbuhannya. Karena jika manusia telah disibukkan dengan pemenuhan perut, maka yang ia keluarkan sebagai input kehidupannya adalah apa yang dikeluarkan oleh perut itu sendiri. Persis tak ubahnya seperti makhluk melata yang lain, hidup tanpa ada akal dan fikiran. Akan tetapi jika dalam hidup ini lebih diprioritaskan kebutuhan otak maka yang muncul adalah manusia yang mengenal diri dan hidupnya, ia semakin faham hakikat kehidupan ini yakni yang mesti taat kepada Tuhannya dan mengabdi sepenuhnya (Qs. Adzariyat: 56).
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
t-@ .
Terimaksih untuk Kakek ku, yang banyak memberiku nasehat dan kata-kata bijak.
Kami Bukanlah Orang Yang Suka Minimalis.
Sebuah Pengantar Untuk Mereka Yang Menamakan Diri Sebagai Aktivis Dakwah.
Maret 2009
Kami Bukanlah Orang Yang Suka Minimalis.
Kami bukanlah kader-kader yang suka melakukan pekerjaan amal shaleh serba minimalis, irit dan tak banyak waktu. Tetapi kami senantiasa bekerja untuk akhirat dan kebaikan serba maksimalis, loyal dan waktu yang selalu tersedia dengan tidak menundanya.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.Qs. Ali-Imran: 133.
Sebenarnya kata minimalis yang dimaksud di sini adalah tergantung dari kalimat yang menyertainya. Jika kalimatnya seperti judul di atas yakni kami bukanlah orang yang suka minimalis, berarti kami bukanlah orang-orang yang suka mengerjakan amal shaleh yang serba minim atau sedikit dari segi porsi dan waktu, dalam kata lain kami selalu melakukan amal kebajikan dengan semaksimal mungkin. Mungkin orang lain berbeda lagi mengartikan kata minimalis ini, atau dalam konteks kata yang lain pula arti minimalis berbeda lagi.
Lakukanlah semaksimal mungkin untuk mendapatkan akhirat dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, artinya untuk pekerjaan yang berorientasi akhirat atau sarana dunia yang dapat mengantarkan pahala akhirat maka harus maksimalis. Tetapi, jika melakukan kemaksiatan atau sarana dunia yang dapat menggiring kepada dosa maka harus minimalis. Ini adalah dua titik yang paling ekstrim, karena keduanya tidak akan bertemu pada titik yang sama pada diri seorang mukmin.
Di sisi lain, dalam diri seorang mukmin ada beberapa hal yang harus diminimalis untuk dikerjakan. Adapun beberapa hal yang harus minimalis pada seseorang terutama seorang kader dakwah ,diantaranya adalah:
1. Minimalis dalam kemaksiatan dan dosa.
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (Qs. An-Nahl:25)
Ucapan dan perbuatan yang mana saja jika ia dapat menggiring seseorang kepada keburukan dan dosa adalah hal yang harus diminimalisir. Seseorang yang dalam melakukan kewajiban ibadah fardlu sering tak terjaga dan meninggalkannya dengan sengaja, maka perbuatan dosanya adalah melanggar atau meninggalkan kewajiban itu sendiri dan tak jarang terkadang dapat melakukan yang lebih buruk dari itu. Sedangkan seorang aktivis dakwah yang terjaga ibadah-ibadah wajibnya dengan baik, maka maksiatnya adalah kelalaian dan kesia-siaan yang ia kerjakan tanpa sengaja atau dengan sengaja.
2. Minimalis dalam kesia-siaan.
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs. Al-Kahfi;104).
Mengerikan bukan apa yang dikatakan Allah dalam surat al-Kahfi di atas?
Di atas, telah disebutkan bahwa tidak ada minimalis untuk amal yang berorientasikan akhirat maka saat ini minimalis yang tidak dianjurkan adalah minimalis dalam kesia-siaan dan tidak berguna.
“Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras” (Qs. Asy-Syuura: 16).
3. Minimalis dalam kebodohan.
“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahu dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” (Al-An’am: 140).
“(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai” (Qs. Adz-Dzaariyat:11).
4. Minimalis dalam mengerjakan tugas-tugas dakwah, artinya tidak optimal dalam tugas-tugas keorganisasian yang diamanahkan kepada mereka.
Adapun hal-hal yang harus maksimalis atau hal-hal yang tidak boleh minimalis pada diri seorang mukmin adalah diantaranya, sebagai berikut:
1. Iman dan Ketaqwaan.
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya[1207] kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” (Qs. Al-Ahzab:22).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (Qs. Al-Anfal:2).
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. Al-Hujurat: 13).
2. Karya dan Prestasi.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Qs.An-Nahl: 97).
Karya dan prestasi kita untuk dakwah ini adalah salah satu jalan dari sekian banyak amal shaleh. Semua penghargaan selama di dunia dalam rangka meninggikan izzah islam adalah prestasi, karya-karya untuk perbaikan ummat di rentang zaman yang kelam ini adalah sebuah amal shaleh dan bernilai amal jariyah bila itu bermanfaat untuk manusia, ilmu yang bermanfaat.
3. Kontribusi dan keterlibatan.
Jangan minimalis dalam berkontribusi. Kontribusi merupakan amal yang dengan diri kita atau tanpa diri kita, atau yang menjadi perantara diri kita meskipun kita tidak ikut serta dalam rangka menyebarkan kebaikan yang tertata dengan rapi. Sedangkan keterlibatan lebih dari sekedar turut serta, tetapi ia harus menjadi pelaku utama di dalam kegiatan apapun namanya. Sehingga seorang mukmin sejati ia tidak hanya sebagai peran pembantu atau peran pengganti, tetapi harus langsung menjadi pelaku utamanya.
4. Ilmu dan amal.
Tidak ada yang diminimalkan dari kedua hal di atas. Ilmu dan amal adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Dengan kefahaman orang dapat beramal, amal yang benar dimulai dari ilmu yang mendalam. Kebodohan ummat hari ini adalah karena mereka tak berilmu dan jauh dari ilmu, menjauhakan diri dari ilmu dan dijauhkan dari ilmu. Akibatnya, kemunduran suatu bangsa hari ini hampir mencapai titik klimaksnya dan tak terelakkan lagi. Banyak manusia yang tak lagi manusiawi, karena dikerangkeng oleh nafsu hartawi, duniawi dan syaithani. Oleh karena itu, marilah kita bersungguh-sungguh dalam memahami teks dan konteks yang diinginkan Al-Qur’an. Karena ilmu disini adalah pemahaman kita terhadap al-Qur’an itu sendiri, internalisasi nilai-nilai qur’ani dalam realitas kehidupan kita, bukan sekedar “bacaan-bacaan mantra” rutin kita yang terkadang tanpa sadarpun bisa kita hafal dengan otomatis, tapi lebih dari itu. Yakni mengamalkan al-Qur’anul karim.
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi”.(Qs. Shaad: 45).
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mujadilah:11).
Tapi kami adalah maksimalis dalam ilmu, amal, obsesi akhirat, cita-cita, perubahan, karya nyata.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan” (Qs. Lukman: 8).
“Yaitu syurga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (syurga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati” (Qs. Maryam; 61).
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Qs. Al-hadid:21)
Minimalis dalam konteks yang lebih khusus adalah bahwa kader dakwah bukanlah orang-orang yang suka dengan pekerjaan yang setengah-setengah apalagi pekerjaan yang tidak tuntas, dan melimpahkan tugasnya kepada orang lain. Pekerjaan minimalis berarti juga perberbuata amal shaleh yang sedikit dan tidak membuahkan hasil, manfaat serta keberkahan.
Terjemahan Kredo Gerakan KAMMI
t-@.
Diambil dari potongan Kredo gerakan KAMMI.
La Takhauf (Jangan Takut).
Di suatu masa, Januari 2009.
Katakutan adalah suatu kelemahan keyakinan
Jika kita telah membaca buku La tahzan, La Tansa, La Tai’as maka kali ini anda akan menikmati buku yang berjudul La Takhauf (Jangan Takut), termasuk jangan takut membaca tulisan ku ini yang masih amatiran. Berangkat dari inspirasi beberapa orang kader dakwah yang sering berinteraksi dengan ku, mereka sering cerita tentang segala kesusahan, keindahan, kebahagiaan di dalam dakwah ini. Tapi dari sekian banyak cerita tak sedikit bertemakan kekhawatiran dan ketakutan dalam menjalani hidup. Kesangsian dan keraguan dalam menerima amanah dari Allah atau kegamangan menjalani kehidupan esok dimana jiwa dan raga ini mengabdi untuk Allah dalam aktivitas dakwah terkadang datang tiba-tiba menyelimuti persepsi kita, sehingga cita-cita dan obsesi yang membentuk mental akan lama tertanam. Sebenarnya semua itu hanya berpangkal dari satu pokok dasar seorang muslim, yakni kebersihan dan kesempurnaan aqidah. Aqidah adalah bagaikan akar pada suatu pohon yang mengambil sari-sari makanan dan mengedarkannya ke seluruh organ tubuh. Jika akar yang tertanam kuat maka pohon akan kokoh tertancap, tidk mudah roboh.
Mari kita nikmati snack gurih ini…
Seperti yang dikatakan Allah kepada Nabi Musa dalam Surat Thaha, agar Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan seketika itu tongkatnya berubah menjadi ular sungguhan yang sangat besar. Jangan takut, ambillah dan peganglah ular itu maka akan kembali menjadi tongkat seperti semula.
Begitulah perumpamaan Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar jangan takut, bagaimana dan apapun kondisinya. Nabi Musa dalam kondisi genting itu tidak merasa takut ketika berhadapan dengan fir’aun yang congkak. Keberanian Nabi Musa memegang tongkat itu tak lain adalah bersumber dari dorongan kekuatan aqidah yang kokoh, meskipun secara manusiawi rasa takut itu ada tapi kali ini yang memerintahkan adalah Allah SWT Yang Maha Pencipta.
Takut ada dua macam yaitu, takut thobi’I(manusiawi) dan takut yang tidak manusiawi. Takut yang bersifat manusiawi biasanya terjadi pada rata-rata kebanyakan manusia karena membahayakan, misalnya: manusia takut dikejar anjing, terbakar api, terjatuh dari ketinggian dan lain sebagainya. Takut yang bersifat tidak manusiawi biasanya hanya dimilki oleh beberapa orang saja karena factor-faktor asasi dari keimanan semata, terutama seoarang mukmin yang tidak memilki landasan aqidah secara mapan maka takut semacam ini kerap melanda kebanyakan orang. Adapun yang menjadi ketakutan manusia yang tidak manusiawi diantaranya adalah:
1. Takut mati
2. Takut tidak mendapat rezeki
3. Takut miskin
4. Takut tidak dapat jodoh
5. Takut kepada syaithan dan makhluk ghaib
6. Takut dengan realita kehidupan
7. Takut tidak mendapat kedudukan
8. Takut mendapat tekanan
9. Takut dengan ujian
10. Takut bergaul dengan manusia
11. Takut tidak mendapatkan keturunan
12. Takut tidak mendapat lapangan pekerjaan
13. Takut kehabisan harta
14. Takut kehilangan jabatan
15. Takut digantikan posisi
16. Masih banyak lagi jenis ketakutan lainnya.
Semua takut di atas factor utama yang berperan adalah aqidah yang rapuh.
Selayaknya sebagai seorang mukmin yang memilki aqidah yang kokoh, maka takut yang seharusnya dimilki adalah sebagai berikut:
1. Takut kepada Allah
2. Takut dengan siksa dan azab Allah di neraka
3. Takut dicabut hidayah dan keimanan
4. Takut ibadah tidak diterima Allah
5. Takut jika tidak mendapat ampunan Allah.
6. Takut ilmu tidak bermanfaat.
7. Takut mati su’ul khatimah
8. Takut kembali kepada kekufuran dan kejahiliyaan.
Umumnya ketakutan seperti ini timbul bukan karena tidak adanya keyakinan dan tidak berhusnudzan kepada Allah, tapi katakutan ini muncul karena kwara’an, kecintaan dan ketakutan kepada Allah.
t-@(lu’lu’)
terimakasih kepada all kader dakwah yang telah banyak berdialog denganku, sehingga banyak menghadirkan inspirasi kepadaku.
APA ARTI JAM BAGI PARA AKTIVIS?
Sekilas kalau dijawab pertanyaan itu, jawabannya adalah ya untuk melihat waktu….
Tapi, sedalamnya bukan demikian jawabannya.
Jam adalah alat untuk melihat waktu, maka jam bisa dikatakan sebagai bendanya. Tentu maknanya bisa berbeda jika kalimatnya “sudah berapa jam Anda menunggu angkot?”
Sedangkan waktu adalah berapa lamanya kita mengerjakan suatu aktivitas. Jika di dalam waktu itu ada banyak hal-hal yang bermanfaat, mungkin ada puluhan, ratusan atau bahkan ada ribuan kebaikan berarti satu waktu saja ada begitu banyak kebaikan yang bisa kita peroleh. Bagaiaman dengan puluhan menit dan puluhan jam yang kita buang percuma. Membuang waktu, sama saja dengan membuang kebaikan atau tidak memanfaatkan kebaikan.
Misalnya, ada waktu dua puluh menit dalam satu hari kita buang. Dalam sepuluh menit pertama bagi yang mempunyai kecepatan rata-rata membaca al-Qur’an lima menit satu lembar berarti dalam waktu sepuluh menit ada dua lembar bacaan al-qur’an yang disia-siakan. Lalu sepuluh menit selanjutnya, bagi yang mempunyai kecepatan berjalan rata-rata lima menit 100 meter maka sepuluh menit ada 200 meter yang ia lewatkan. Begitu seterusnya.
Nah, kalau demikian berharganya datik demi detik, menit demi menit maka waktu harus kita hargai sebagai penghargaan kepada kebaikan dan lebih tepatnya adalah ibadah. Jika ada seorang ikhwah yang hadir rapat sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan berarti ia telah mengawalkan kebaikan itu selama sepuluh menit, dan selama sepuluh menit pula ia mengisinya dengan amal kebaikan yang lain, mungkin dengan membaca, mengetik sms taushiyah, tilawah atau zikir. Bagaimana dengan ikhwah yang telat, dan telat terus tiap hari…? Tentu ia tidak mendapatkan kebaikan yang plus seperti ikhwah pertama yang lebih awal datang tadi. Jadi waktu itu untuk dihargai karena di dalamnya banyak terkandung kebaikan, bukan untuk diulur-ulur atau dibuang begitu saja. Masih kita ingat serangan roket Israel ke Gaza di akhir tahun 2008 lalu, hanya dalam hitungan menit saja roket-roket itu telah meluluhlantakkan kota Gaza. Lalu, masihkah kita mau disamakan dengan orang-orang yang membunuh nilai-nilai kebaikan??? Seharusnya dalam waktu sejumlah itu kita juga mampu menyusun strategi untuk mencari kelemahan para Yahudi penjajah.
Ada beberapa dampak buruk bagi yang kurang menghargai nilai waktu, artinya jika sudah tidak tepat waktu maka yang ada hanyalah tergesa-gesa dan selalu terburu-buru. Akibatnya adalah:
1. Selalu saja ada yang lupa dan tertinggal, apakah itu arsip, buku agenda, titipan orang lain, atau bisa handphone sendiri pun lupa.
2. Akan mempengaruhi agenda-agenda yang lain dan agenda-agenda selanjutnya karena jika agenda awal saja terlambat maka akan disusul dengan agenda kedua yang pastinya akan terlambat juga karena waktu itu tidak berjalan mundur atau tetap tapi terus berjalan tak kenal henti.
3. Jika sudah terburu-buru, bagi yang mengendarai mobil atau motor maka acara nyetir ngebut tidak bisa dihindari. Perlengkapan jalan lalulintas pun lupa diperhatikan seperti helm,SIM, STNK atau bensin yang sekarat pun tak lagi diperhatikan. Kalau sudah begini maka yang rugi bukan hanya diri sendiri jika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan di tengah perjalanan tapi juga merugikan orang lain yang juga sedang mengendarai.
4. Konsep yang sudah dirancang dari rumah, karena terburu-buru jadi nyecer ditengah jalan, maksudnya konsep dan redaksional penyampaian di saat rapat tidak tertata lagi dengan baik. Nafas yang tersengal-sengal karena baru sampai, sehingga tidak nyaman bagi peserta rapat yang lain. Malu nggak sih…jadi aktivis telatan, mestinya kan teladan… coba, kalau ada yang nyeletuk seperti itu bagaimana akal kita?? Bukan perasaan kita yang saya minta, karena ini untuk difikrkan agar diperbaiki, bukan untuk dirasakan yang pada akhirnya kita jadi tersinggung.
Tapi ada ungkapan unik dari beberapa orang aktivis tarbiyah, mari kita simak beberapa petikan ungkapan berikut yang terjadi dibeberapa orang kader disuatu kesempatan:
“Ana nggak mau datang cepet-cepet, kalau yang lain belum datang lalu ana ngapain di sana sendiri??” atau ada juga yang kelewat husnudzan dengan saudaranya “ana agak telat aja datang nya, karena yang lain juga biasanya telat”
atau ungkapan senada juga pernah dikatakan seorang kader “ sekarang pukul 16.00, acara tastqif 16.15 jadi ana berangkatnya 15 menit lagi…”.
Seringnya ungkapan ini “ ana datangnya telat aja, biasanya juga acaranya molor sekitar 30 menit…”. Keterlambatan yang terjadi di kalangan aktivis dakwah juga terkadang tidak harus diungkapkan demikian namun tercermin dalam komitmen dan kesungguhan yang kurang dalam mengahdiri suatu acara. Misalnya, jika ada yang tinggal bersama dalam satu kost atau pondokan maka budaya antri selalu menjadi kambing hitam (kambing siapa ya yang sering disalahkan..).
So, marilah kita belajar menjadi orang yang bijak dalam menghargai waktu. Karena menghargai waktu berarti sama dengan memuliakan nilai-nilai kebaikan. Memuliakan kebaikan berarti sama dengan mencintai kebaikan itu sendiri dan menambah tabungan amal.
Ayo…siapa yang mau cepet masuk syurga lewat pintu ini??
t-@(lu’lu’)
untuk para aktivis, khususnya kader KAMMI RIAU, tepat waktu alias nggak pake telat-telat, kalau syuro seng rukun jangan berantem…