Senin, 12 April 2010

KADO UNTUK KAMMI...!! (KAMMI DI MILAD YANG KE-12 TAHUN)



Jika KAMMI adalah seorang anak, maka hari ini dia telah menjadi remaja yang sedang “cerdas-cerdasnya”. Ia tumbuh lebih “gesit” dibandingkan remaja seusianya. Nah, di usianya yang ke-12 ini KAMMI ingin bercerita tentang dirinya, mari kita simak sejenak:
Perkenalkan namaku KAMMI, orang lebih simpel menyebutku demikian daripada sebutan yang panjang yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Namaku harus pakai tasydid, karena itu menandakan simbol ideologinya yakni KAMMI, bukan KAMI sebuah gerakan seperti dinosaurus, yang kata orang hewan yang gagah, besar dan unik tapi semua orang hari ini tidk pernah melihatnya karena “dinosaurus” itu ternyata tidak punya generasi penerus lagi.
Namaku KAMMI, hari ini genap usiaku 12 tahun. Usiaku bisa dikatakan sebagai usia remaja yang baru kelas 2 SMP. Tapi walaupun aku masih “hijau” kata orang tua, tapi aku punya gagasan besar untuk Indonesia ke depan, yang tidak dimilki remaja seumuran dengan ku. Meskipun aku masih belia, banyak anak-anak muda yang shaleh dan shaleha sangat “sayang” dan “berteman” denganku. Maka dari itu, aku dan mereka telah menyatu dalam visi dan tujuan serta paradigma yang sama untuk kemenangan Islam ini. Aku juga banyak punya teman dahulu di tahun 1998 waktu kami bersama-sama “menggusur” kepemimpinan dzalim dari “kursi empuk” Istana rakayat (bukan negara ya yang punya Istana, tapi rakyat), tapi sekarang mereka seperti “tidak terlihat”. Aku tidak lahir begitu saja, benihku adalah benih yang tertanam dalam rahim tarbiyah membuat aku “lebih shaleh” dari teman-temanku dan pengalaman Indonesia sejak 25-an tahun silam yang mendewasakan aku menjadi gerakan yang eksis dibidang solusi ummat. Saat itu Soeharto dan para arsitek Orde Baru begitu ketakutan di usia politiknya yang baru belasan tahun terhadap mahasiswa yang mulai jenuh dan menentangnya. Saat “dikontrolnya” gerakan mahasiswa dengan proyek depolitisasi kampus melalui NKK-BKK. Tiarapnya gerakan mahasiswa secara politik dimanfaatkan secara kreatif dengan memanfaatkan peluang yang setidaknya dilihat Orde Baru sebagai sikap apolitis: kajian keislaman. Generasi baru Islam Indonesia tahun ‘80-an seolah menemukan cara yang berbeda dalam memahami Islam dan konteks politik Indonesia saat itu. Setidaknya itulah yang tergambarkan lewat seruan Nurcholis Madjid–yang lumayan kontroversial secara ide–“Islam yes, Partai Islam no”.
Itulah sekilas aku tempo dulu...
Aku Terinspirasi dari gerakannya Nabi Musa melawan Fir’aun laknatullah.
Namaku KAMMI, aku menjadi begini paling tidak ada yang membuatku terinpirasi. Ya, aku terinspirasi dari cerita Nabi Musa. Musa adalah sosok pemuda yang tidak begitu kuat dibandingkan Fir’aun yang punya segalanay apa yang ia mau, apa yang ia bisa karena memang ia bisa dan punya apa-apa yang bsia ia banggakan. Meskipun Musa besar dan tinggal bersama Fir’aun, namun ia tidak menjadi sosok yang “sesat” ideologinya. Disinilah awal Musa mengenal Fir’aun dan mengetahui kelemahan-kelemahan Fir’aun. Musa ditumbuhkan dari nilai2 rabbani, karena Allah yang langsung mentarbiyahnya sejak ia kecil dari masa bayinya. Yang unik dari kisah spektakuler ini adalah saat “pertunjukan” kekuatan itu dimulai, maka tongkat Fir’aun seketika menjelma menjadi ular raksasa yang sangat besar. Fir’aun dan rakyat Mesir yang melihat pertarungan itu terkesiap, terutama para penyihir itu. Karena mereka tahu itu bukan ular sihir, tapi itu betul-betul ular sungguhan. Kemudian dalam sekejap ular itu telah melahap nikmat ular-ular kecil palsu milik para penyihir Fir’aun. Panggung gaduh, dan para penyihirpun tunduk dan bersujud, menyatakan iman kepada Tuhannya Musa. Selesaikah pertarungan sampai di sini? Ternyata pertarungan belum usai...
Fir’aun terus mengejar Musa. Kisah itu pun berkembang menjadi sebuah drama paling kolosal sepanjang sejarah manusia. Puncaknya adalah pengejaran Musa bersama seluruh pengikutnya. Dalam situasi terpojok seperti itu seharusnya Musa berlari ke gunung seperti yang kita baca dalam ilmu strategi perang. Tapi Musa justru berlari ke tepi laut. Berita itu membuat Fir’aun tersenyum penuh kemenangan. Seperti yakin bahwa riwayat Musa seakan berakhir di situ. Namun justru riwayat Fir’aunlah yang berakhir di situ.
Sebab tongkat Musa sekali lagi bekerja dengan cara lain. Tongkat itu membelah laut merah yang kemudian memberi jalan bagi mereka berlari dari kejaran tentara Fir’aun. Dan Fir’aun juga tidak menyadari kalau itu adalah jebakan terakhir yang menutup riwayat keangkuhan dan kerajaannya. Begitulah Fir’aun menyeberangi laut yang seketika tertutup kembali setelah sebelumnya dibelah oleh tongkat Musa.
Tongkat Musa bukanlah simbol pengetahuan. Itu adalah simbol dari apa yang oleh para ahli strategi sekarang disebut sebagai hard power. Itu merupakan tools yang digunakan untuk mengajar, bukan terutama untuk menghancurkan. Karena nabi-nabi itu seluruhnya diturunkan untuk satu misi: mengajar manusia. Cara manusia belajarlah yang membedakan tools yang tepat yang digunakan untuk mengajar mereka.
Dalam situsasi Fir’aun dan zamannya, hanya hard power yang bisa menundukkan dan menaklukkan mereka, serta menyadarkan mereka bahwa di atas kebesaran mereka ada yang jauh lebih Maha Besar. Itu cara belajar yang primitif karena sepenuhnya bertumpuh pada dimensi visual, dan relatif mengabaikan semua dimensi penalaran. Di sini nasehat tidak terpengaruh. Kebenaran berpengaruh hanya ketika ia menang dalam pertarungan fisik.
Hard power itu, di zaman kita, adalah kuasa teknologi yang sebagiannya menjelma pada mesin perang modern. Jika tongkat Musa adalah simbol hard power, maka keunggulan itu berasal dari mukjizat Allah yang diwahyukan kepada Musa. Itu pengetahuan di atas pengetahuan zamannya, persis seperti Nuh yang diwahyukan membuat perahu untuk mengantisipasi banjir.
Coba perhatikan penjelasan Allah dalam al-Qur’an dalam surat Yunus ayat 90-91,
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Nah, cerita Musa As lah yang membuat aku terinspirasi untuk melakukan sebuah gagasan besar, bahwa dalam kondisi yang bagaimanapun, sekalipun berhadapan dengan penguasa “Fir’aun modern”, jika aku Musa-nya pasti aku akan menangkan agama ini di atas kemenangan yang lain.
Diriku hari ini...(KAMMI tempo sekarang..)
Namaku KAMMI, dan karena aku tinggal di daerah Riau, maka aku sering disebut KAMMI daerah Riau simpelnya KAMMDA Riau. Di negeri Lancang Kuning ini aku ingin punya “energi besar” yang bisa menjadi “sumber” bagi “teman-temanku” yang lain, lebih besar dari energi minyak-nya Cevron dan Medco. Aku akan membuat ide yang sama besarnya dengan Riau yang bercahaya yang telah dilounchingkan oleh tokoh-tokoh di Riau beberapa bulan lalu. Aku juga akan membuat “produk-produk baru” sebagai rujukan gerakan lain. Karena aku juga gerakan berbasis talenta, maka aku tak sekedar “Si Jago Aksi” tapi aku juga gerakan yang menawarkan konsep ilmiah. Selain itu, sektor-sektor riil bangsa juga memiliki peran yang tak jauh pentingnya dibandingkan dengan politik. Katakan saja ekonomi, budaya, sosial, pendidikan, hukum, pertahanan dan keamanan serta aspek-aspek yang lain, kesemuanya saling berkaitan satu sama lain dan keberadaannya tidak dapat dinafikkan oleh siapapun jika ingin mencapai kesejahteraan. Aku akan mentransformasikan konsep paradigma gerakan ini dalam lingkaran strategis yang tepat dalam lingkup individu anggotanya maupun secara gerakan struktural. Hal ini juga sebagai cerminan syumuliatul Islam dalam gerakan.
Hasilnya...
Ketika ada orang yang membutuhkan konsultasi tentang ekonomi syari’ah maka akulah tempatnya, ingin mencari ahli hukum dan politik akulah yang mereka tuju. Atau ingin diskusi tentang pemuda muslim yang berkemampuan negara maka akulah yang dimaksud. Apalagi berbicara tentang sosok muslim ideal yang sempurna dan paripurna tentu aku adalah orag yang paling tepat untuk mereka. Jadi intinya aku seperti makhluk yang serba bisa, yang sedang mengobati penyakit bangsa..begitulah kira-kira.
KAMMI BUKAN GERAKAN REAKTIF TAPI GERAKAN PROAKTIF (Harakatul Amal) DAN PRODUKTIF (Harakatut Tajnid).
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. An-Nuur : 55).
Aku adalah KAMMI, aku tak ingin hanya sekedar menjadi gerakan yang reaksioner terus-menerus. Sudah saatnya aku menjadi bagian dari terbentuknya konsep civil society. Sudah waktunya aku mentransformasikan gerakannya menjadi sebuah gerakan yang mampu memberikan peran aktif dalam pemecahan permasalahan umat khususnya Indonesia. Karakterku sebagai problem solver terhadap permaslahan keummatan adalah sebagai ekspresi nilai ketaqwaan ku kepada Allah SWT, maka itulah bentuk pengamalanku sebagai gerakan amal (harakatul amal). Gerakan para pengukir karya, karya bagiku bermakna amal jariyah yang tak pernah putus sampai kita mati, dengan kata lain kontribusi bagi ummat dan negara ini. Tak kalah pentingnya, mencetak generasi sebagai lokomotif pelaksana amal itu (harakatut tajnid). Proaktif dalam penyelesaian masalah bangsa dan keummatan, juga produktif menghasilkan bibit unggul yang siap diterjunkan ke masayarakat dan mengisi pos-pos terdepan negeri ini.
Demikian cerita KAMMI di usianya yang ke-12 tahun hari ini, dia akan selalu hadir dalam penyelesaian polemik bangsa ini dan selalu akan menjadi cahaya bagi ummat dan negeri Indonesia tercinta ini dengan slogan bagus Muslim Negarawan.
Akhirnya, untuk KAMMI-ku, KAMMI-kita dan KAMMI-Indonesia “Selamat Ber-Duabelas tahun pas”. Bangun dan susunlah bata peradaban itu agar menjadi istana megah, agar Ibu Peritiwi tersenyum melihat engkau tumbuh menjadi sosok yang terus bersemangat.


Pekanbaru, 29 Maret 2010.
Setiyati, S.Si
MPD KAMMI DAERAH RIAU


0 komentar:

Daftar Blog AB3 KAMMI RIAU

Komentar

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Followers

Refresh

MPD KAMMI Daerah Riau © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO