Senin, 20 April 2009
Kami Bukanlah Orang Yang Suka Minimalis.
Sebuah Pengantar Untuk Mereka Yang Menamakan Diri Sebagai Aktivis Dakwah.
Maret 2009
Kami Bukanlah Orang Yang Suka Minimalis.
Kami bukanlah kader-kader yang suka melakukan pekerjaan amal shaleh serba minimalis, irit dan tak banyak waktu. Tetapi kami senantiasa bekerja untuk akhirat dan kebaikan serba maksimalis, loyal dan waktu yang selalu tersedia dengan tidak menundanya.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.Qs. Ali-Imran: 133.
Sebenarnya kata minimalis yang dimaksud di sini adalah tergantung dari kalimat yang menyertainya. Jika kalimatnya seperti judul di atas yakni kami bukanlah orang yang suka minimalis, berarti kami bukanlah orang-orang yang suka mengerjakan amal shaleh yang serba minim atau sedikit dari segi porsi dan waktu, dalam kata lain kami selalu melakukan amal kebajikan dengan semaksimal mungkin. Mungkin orang lain berbeda lagi mengartikan kata minimalis ini, atau dalam konteks kata yang lain pula arti minimalis berbeda lagi.
Lakukanlah semaksimal mungkin untuk mendapatkan akhirat dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, artinya untuk pekerjaan yang berorientasi akhirat atau sarana dunia yang dapat mengantarkan pahala akhirat maka harus maksimalis. Tetapi, jika melakukan kemaksiatan atau sarana dunia yang dapat menggiring kepada dosa maka harus minimalis. Ini adalah dua titik yang paling ekstrim, karena keduanya tidak akan bertemu pada titik yang sama pada diri seorang mukmin.
Di sisi lain, dalam diri seorang mukmin ada beberapa hal yang harus diminimalis untuk dikerjakan. Adapun beberapa hal yang harus minimalis pada seseorang terutama seorang kader dakwah ,diantaranya adalah:
1. Minimalis dalam kemaksiatan dan dosa.
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (Qs. An-Nahl:25)
Ucapan dan perbuatan yang mana saja jika ia dapat menggiring seseorang kepada keburukan dan dosa adalah hal yang harus diminimalisir. Seseorang yang dalam melakukan kewajiban ibadah fardlu sering tak terjaga dan meninggalkannya dengan sengaja, maka perbuatan dosanya adalah melanggar atau meninggalkan kewajiban itu sendiri dan tak jarang terkadang dapat melakukan yang lebih buruk dari itu. Sedangkan seorang aktivis dakwah yang terjaga ibadah-ibadah wajibnya dengan baik, maka maksiatnya adalah kelalaian dan kesia-siaan yang ia kerjakan tanpa sengaja atau dengan sengaja.
2. Minimalis dalam kesia-siaan.
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs. Al-Kahfi;104).
Mengerikan bukan apa yang dikatakan Allah dalam surat al-Kahfi di atas?
Di atas, telah disebutkan bahwa tidak ada minimalis untuk amal yang berorientasikan akhirat maka saat ini minimalis yang tidak dianjurkan adalah minimalis dalam kesia-siaan dan tidak berguna.
“Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras” (Qs. Asy-Syuura: 16).
3. Minimalis dalam kebodohan.
“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahu dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” (Al-An’am: 140).
“(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai” (Qs. Adz-Dzaariyat:11).
4. Minimalis dalam mengerjakan tugas-tugas dakwah, artinya tidak optimal dalam tugas-tugas keorganisasian yang diamanahkan kepada mereka.
Adapun hal-hal yang harus maksimalis atau hal-hal yang tidak boleh minimalis pada diri seorang mukmin adalah diantaranya, sebagai berikut:
1. Iman dan Ketaqwaan.
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya[1207] kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” (Qs. Al-Ahzab:22).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (Qs. Al-Anfal:2).
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. Al-Hujurat: 13).
2. Karya dan Prestasi.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Qs.An-Nahl: 97).
Karya dan prestasi kita untuk dakwah ini adalah salah satu jalan dari sekian banyak amal shaleh. Semua penghargaan selama di dunia dalam rangka meninggikan izzah islam adalah prestasi, karya-karya untuk perbaikan ummat di rentang zaman yang kelam ini adalah sebuah amal shaleh dan bernilai amal jariyah bila itu bermanfaat untuk manusia, ilmu yang bermanfaat.
3. Kontribusi dan keterlibatan.
Jangan minimalis dalam berkontribusi. Kontribusi merupakan amal yang dengan diri kita atau tanpa diri kita, atau yang menjadi perantara diri kita meskipun kita tidak ikut serta dalam rangka menyebarkan kebaikan yang tertata dengan rapi. Sedangkan keterlibatan lebih dari sekedar turut serta, tetapi ia harus menjadi pelaku utama di dalam kegiatan apapun namanya. Sehingga seorang mukmin sejati ia tidak hanya sebagai peran pembantu atau peran pengganti, tetapi harus langsung menjadi pelaku utamanya.
4. Ilmu dan amal.
Tidak ada yang diminimalkan dari kedua hal di atas. Ilmu dan amal adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Dengan kefahaman orang dapat beramal, amal yang benar dimulai dari ilmu yang mendalam. Kebodohan ummat hari ini adalah karena mereka tak berilmu dan jauh dari ilmu, menjauhakan diri dari ilmu dan dijauhkan dari ilmu. Akibatnya, kemunduran suatu bangsa hari ini hampir mencapai titik klimaksnya dan tak terelakkan lagi. Banyak manusia yang tak lagi manusiawi, karena dikerangkeng oleh nafsu hartawi, duniawi dan syaithani. Oleh karena itu, marilah kita bersungguh-sungguh dalam memahami teks dan konteks yang diinginkan Al-Qur’an. Karena ilmu disini adalah pemahaman kita terhadap al-Qur’an itu sendiri, internalisasi nilai-nilai qur’ani dalam realitas kehidupan kita, bukan sekedar “bacaan-bacaan mantra” rutin kita yang terkadang tanpa sadarpun bisa kita hafal dengan otomatis, tapi lebih dari itu. Yakni mengamalkan al-Qur’anul karim.
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi”.(Qs. Shaad: 45).
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mujadilah:11).
Tapi kami adalah maksimalis dalam ilmu, amal, obsesi akhirat, cita-cita, perubahan, karya nyata.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan” (Qs. Lukman: 8).
“Yaitu syurga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (syurga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati” (Qs. Maryam; 61).
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Qs. Al-hadid:21)
Minimalis dalam konteks yang lebih khusus adalah bahwa kader dakwah bukanlah orang-orang yang suka dengan pekerjaan yang setengah-setengah apalagi pekerjaan yang tidak tuntas, dan melimpahkan tugasnya kepada orang lain. Pekerjaan minimalis berarti juga perberbuata amal shaleh yang sedikit dan tidak membuahkan hasil, manfaat serta keberkahan.
Terjemahan Kredo Gerakan KAMMI
t-@.
Diambil dari potongan Kredo gerakan KAMMI.
La Takhauf (Jangan Takut).
Di suatu masa, Januari 2009.
Katakutan adalah suatu kelemahan keyakinan
Jika kita telah membaca buku La tahzan, La Tansa, La Tai’as maka kali ini anda akan menikmati buku yang berjudul La Takhauf (Jangan Takut), termasuk jangan takut membaca tulisan ku ini yang masih amatiran. Berangkat dari inspirasi beberapa orang kader dakwah yang sering berinteraksi dengan ku, mereka sering cerita tentang segala kesusahan, keindahan, kebahagiaan di dalam dakwah ini. Tapi dari sekian banyak cerita tak sedikit bertemakan kekhawatiran dan ketakutan dalam menjalani hidup. Kesangsian dan keraguan dalam menerima amanah dari Allah atau kegamangan menjalani kehidupan esok dimana jiwa dan raga ini mengabdi untuk Allah dalam aktivitas dakwah terkadang datang tiba-tiba menyelimuti persepsi kita, sehingga cita-cita dan obsesi yang membentuk mental akan lama tertanam. Sebenarnya semua itu hanya berpangkal dari satu pokok dasar seorang muslim, yakni kebersihan dan kesempurnaan aqidah. Aqidah adalah bagaikan akar pada suatu pohon yang mengambil sari-sari makanan dan mengedarkannya ke seluruh organ tubuh. Jika akar yang tertanam kuat maka pohon akan kokoh tertancap, tidk mudah roboh.
Mari kita nikmati snack gurih ini…
Seperti yang dikatakan Allah kepada Nabi Musa dalam Surat Thaha, agar Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan seketika itu tongkatnya berubah menjadi ular sungguhan yang sangat besar. Jangan takut, ambillah dan peganglah ular itu maka akan kembali menjadi tongkat seperti semula.
Begitulah perumpamaan Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar jangan takut, bagaimana dan apapun kondisinya. Nabi Musa dalam kondisi genting itu tidak merasa takut ketika berhadapan dengan fir’aun yang congkak. Keberanian Nabi Musa memegang tongkat itu tak lain adalah bersumber dari dorongan kekuatan aqidah yang kokoh, meskipun secara manusiawi rasa takut itu ada tapi kali ini yang memerintahkan adalah Allah SWT Yang Maha Pencipta.
Takut ada dua macam yaitu, takut thobi’I(manusiawi) dan takut yang tidak manusiawi. Takut yang bersifat manusiawi biasanya terjadi pada rata-rata kebanyakan manusia karena membahayakan, misalnya: manusia takut dikejar anjing, terbakar api, terjatuh dari ketinggian dan lain sebagainya. Takut yang bersifat tidak manusiawi biasanya hanya dimilki oleh beberapa orang saja karena factor-faktor asasi dari keimanan semata, terutama seoarang mukmin yang tidak memilki landasan aqidah secara mapan maka takut semacam ini kerap melanda kebanyakan orang. Adapun yang menjadi ketakutan manusia yang tidak manusiawi diantaranya adalah:
1. Takut mati
2. Takut tidak mendapat rezeki
3. Takut miskin
4. Takut tidak dapat jodoh
5. Takut kepada syaithan dan makhluk ghaib
6. Takut dengan realita kehidupan
7. Takut tidak mendapat kedudukan
8. Takut mendapat tekanan
9. Takut dengan ujian
10. Takut bergaul dengan manusia
11. Takut tidak mendapatkan keturunan
12. Takut tidak mendapat lapangan pekerjaan
13. Takut kehabisan harta
14. Takut kehilangan jabatan
15. Takut digantikan posisi
16. Masih banyak lagi jenis ketakutan lainnya.
Semua takut di atas factor utama yang berperan adalah aqidah yang rapuh.
Selayaknya sebagai seorang mukmin yang memilki aqidah yang kokoh, maka takut yang seharusnya dimilki adalah sebagai berikut:
1. Takut kepada Allah
2. Takut dengan siksa dan azab Allah di neraka
3. Takut dicabut hidayah dan keimanan
4. Takut ibadah tidak diterima Allah
5. Takut jika tidak mendapat ampunan Allah.
6. Takut ilmu tidak bermanfaat.
7. Takut mati su’ul khatimah
8. Takut kembali kepada kekufuran dan kejahiliyaan.
Umumnya ketakutan seperti ini timbul bukan karena tidak adanya keyakinan dan tidak berhusnudzan kepada Allah, tapi katakutan ini muncul karena kwara’an, kecintaan dan ketakutan kepada Allah.
t-@(lu’lu’)
terimakasih kepada all kader dakwah yang telah banyak berdialog denganku, sehingga banyak menghadirkan inspirasi kepadaku.
APA ARTI JAM BAGI PARA AKTIVIS?
Sekilas kalau dijawab pertanyaan itu, jawabannya adalah ya untuk melihat waktu….
Tapi, sedalamnya bukan demikian jawabannya.
Jam adalah alat untuk melihat waktu, maka jam bisa dikatakan sebagai bendanya. Tentu maknanya bisa berbeda jika kalimatnya “sudah berapa jam Anda menunggu angkot?”
Sedangkan waktu adalah berapa lamanya kita mengerjakan suatu aktivitas. Jika di dalam waktu itu ada banyak hal-hal yang bermanfaat, mungkin ada puluhan, ratusan atau bahkan ada ribuan kebaikan berarti satu waktu saja ada begitu banyak kebaikan yang bisa kita peroleh. Bagaiaman dengan puluhan menit dan puluhan jam yang kita buang percuma. Membuang waktu, sama saja dengan membuang kebaikan atau tidak memanfaatkan kebaikan.
Misalnya, ada waktu dua puluh menit dalam satu hari kita buang. Dalam sepuluh menit pertama bagi yang mempunyai kecepatan rata-rata membaca al-Qur’an lima menit satu lembar berarti dalam waktu sepuluh menit ada dua lembar bacaan al-qur’an yang disia-siakan. Lalu sepuluh menit selanjutnya, bagi yang mempunyai kecepatan berjalan rata-rata lima menit 100 meter maka sepuluh menit ada 200 meter yang ia lewatkan. Begitu seterusnya.
Nah, kalau demikian berharganya datik demi detik, menit demi menit maka waktu harus kita hargai sebagai penghargaan kepada kebaikan dan lebih tepatnya adalah ibadah. Jika ada seorang ikhwah yang hadir rapat sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan berarti ia telah mengawalkan kebaikan itu selama sepuluh menit, dan selama sepuluh menit pula ia mengisinya dengan amal kebaikan yang lain, mungkin dengan membaca, mengetik sms taushiyah, tilawah atau zikir. Bagaimana dengan ikhwah yang telat, dan telat terus tiap hari…? Tentu ia tidak mendapatkan kebaikan yang plus seperti ikhwah pertama yang lebih awal datang tadi. Jadi waktu itu untuk dihargai karena di dalamnya banyak terkandung kebaikan, bukan untuk diulur-ulur atau dibuang begitu saja. Masih kita ingat serangan roket Israel ke Gaza di akhir tahun 2008 lalu, hanya dalam hitungan menit saja roket-roket itu telah meluluhlantakkan kota Gaza. Lalu, masihkah kita mau disamakan dengan orang-orang yang membunuh nilai-nilai kebaikan??? Seharusnya dalam waktu sejumlah itu kita juga mampu menyusun strategi untuk mencari kelemahan para Yahudi penjajah.
Ada beberapa dampak buruk bagi yang kurang menghargai nilai waktu, artinya jika sudah tidak tepat waktu maka yang ada hanyalah tergesa-gesa dan selalu terburu-buru. Akibatnya adalah:
1. Selalu saja ada yang lupa dan tertinggal, apakah itu arsip, buku agenda, titipan orang lain, atau bisa handphone sendiri pun lupa.
2. Akan mempengaruhi agenda-agenda yang lain dan agenda-agenda selanjutnya karena jika agenda awal saja terlambat maka akan disusul dengan agenda kedua yang pastinya akan terlambat juga karena waktu itu tidak berjalan mundur atau tetap tapi terus berjalan tak kenal henti.
3. Jika sudah terburu-buru, bagi yang mengendarai mobil atau motor maka acara nyetir ngebut tidak bisa dihindari. Perlengkapan jalan lalulintas pun lupa diperhatikan seperti helm,SIM, STNK atau bensin yang sekarat pun tak lagi diperhatikan. Kalau sudah begini maka yang rugi bukan hanya diri sendiri jika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan di tengah perjalanan tapi juga merugikan orang lain yang juga sedang mengendarai.
4. Konsep yang sudah dirancang dari rumah, karena terburu-buru jadi nyecer ditengah jalan, maksudnya konsep dan redaksional penyampaian di saat rapat tidak tertata lagi dengan baik. Nafas yang tersengal-sengal karena baru sampai, sehingga tidak nyaman bagi peserta rapat yang lain. Malu nggak sih…jadi aktivis telatan, mestinya kan teladan… coba, kalau ada yang nyeletuk seperti itu bagaimana akal kita?? Bukan perasaan kita yang saya minta, karena ini untuk difikrkan agar diperbaiki, bukan untuk dirasakan yang pada akhirnya kita jadi tersinggung.
Tapi ada ungkapan unik dari beberapa orang aktivis tarbiyah, mari kita simak beberapa petikan ungkapan berikut yang terjadi dibeberapa orang kader disuatu kesempatan:
“Ana nggak mau datang cepet-cepet, kalau yang lain belum datang lalu ana ngapain di sana sendiri??” atau ada juga yang kelewat husnudzan dengan saudaranya “ana agak telat aja datang nya, karena yang lain juga biasanya telat”
atau ungkapan senada juga pernah dikatakan seorang kader “ sekarang pukul 16.00, acara tastqif 16.15 jadi ana berangkatnya 15 menit lagi…”.
Seringnya ungkapan ini “ ana datangnya telat aja, biasanya juga acaranya molor sekitar 30 menit…”. Keterlambatan yang terjadi di kalangan aktivis dakwah juga terkadang tidak harus diungkapkan demikian namun tercermin dalam komitmen dan kesungguhan yang kurang dalam mengahdiri suatu acara. Misalnya, jika ada yang tinggal bersama dalam satu kost atau pondokan maka budaya antri selalu menjadi kambing hitam (kambing siapa ya yang sering disalahkan..).
So, marilah kita belajar menjadi orang yang bijak dalam menghargai waktu. Karena menghargai waktu berarti sama dengan memuliakan nilai-nilai kebaikan. Memuliakan kebaikan berarti sama dengan mencintai kebaikan itu sendiri dan menambah tabungan amal.
Ayo…siapa yang mau cepet masuk syurga lewat pintu ini??
t-@(lu’lu’)
untuk para aktivis, khususnya kader KAMMI RIAU, tepat waktu alias nggak pake telat-telat, kalau syuro seng rukun jangan berantem…
Minggu, 12 April 2009
DIBUANG SAYANG, DIBAWA HILANG.
Jalan hidup ini teramat panjang, sayang jika terlewatkan sedikit saja. Perlu difahami bahwa kita dalam hidup ini tidak sendirian, tapi ada orang lain yang menyertai kisah demi kisah perjalanan hidup ini. penggalan cerita hidup ini jika dibuang sayang, karena siapa lagi yang akan menuliskan cerita itu kalau bukan kita sendiri yang mengalaminya.
Jika kita mau berjalan setiap harinya banyak pelajaran yang memukau berada di sekeliling kita, jadi kita kalau berjalan jangan sambil terpejam tapi lihat dan bukalah mata agar kita senantiasa merasakan bahwa kita hidup tidak sendiri tapi banyak orang yang menemani kita, dan ternyata banyak manusia yang Allah ciptakan untuk berbuat baik kepada kita.
Yakinlah saudaraku, semua yang Allah berikan kepada kita diperjalanan menuju perjumpaan dengan-Nya akan penuh dengan keringat, air mata dan darah jika kita amat berbesar hati untuk menyadari semua nikmat Allah A’zza wajala.
Kumpulan cerita nonfiktif dan fiktif ini aku beri judul Dibuang Sayang Dibawa Hilang, memang jika dilupakan teramat sayang, tapi jika di bawa saja dalam bentuk tulisan maka akan hilang dalam ingatan karena tanpa makna dan pemahaman yang lebih dalam.
Tulisan yang anda baca ini adalah kumpulan ide-ide kemanusiaan, moral dan fenomena alam yang terjadi hampir setiap hari. Ide-ide ini tiba-tiba muncul bebas di alam fikiran ku sehingga jika dibuang sayang, terkadang ia datang saat ingin istirahat, waktu makan, tilawah dan berjalan. Entahlah dari mana mereka berasal, tapi aku suka dengan kehadiran mereka.
Potongan cerita dan tafakur mini tidak semua aku terjemahkan dalam ritme hidup ini, cukup Anda sendiri yang lebih dalam untuk mengartikannya, karena irama hidup masing-masing kita berbeda. Aku hanya berusaha memungut makna yang tercecer untuk Anda, dan aku berharap Anda dapat terinspirasi dari salah satu ceritaku ini. Agar Hidup Lebih Beramal.
Selamat menikmati
Catatan:
Jika ada kesamaan cerita, nama atau tokoh, alamat dan setting tempat yang sama maka cerita itu bukanlah fiktif belaka, tapi memang Allah lah Yang Maha Berkehendak untuk mempertemukan semua itu.
SETIATY.
tia_kammi.yahoo@.co.id
0813 6545 1960
Sabtu, 11 April 2009
Prolog Segenggam Aqidah…
Kesatria Putih Pencari Tuhannya…
Di masa itu, hiduplah seorang pendekar gagah berani pembela kebenaran yang berjiwa kesatria. Dalam dunia persilatan orang-orang sering menamakan dirinya Kesatria Putih, pekerjaannya mengembara dari negeri satu ke negeri yang lain sehingga tak ada waktu lama untuk mengerjakan satu macam pekerjaan di satu daerah saja. Ia adalah seorang petarung handal tiada tandingan, setiap kali pertempuran digelar maka tiap itu pula kemenangan menjadi miliknya. Sang kestaria bermata tajam dan berambut ikal itu dengan keahliannya yang mumpuni memiliki jurus-jurus ampuh yang mematikan dalam beberapa kali gerakan saja. Jika berhadapan dengan musuh ia tak gentar dan pantang lari, musuh tidak dicari tapi jika bertemu pantang lari… Dalam kamus hidupnya, jika kejahatan di depan mata maka akan bertarung melawannya sampai tetes darah penghabisan. Karena sifatnya yang demikian itu pula ia disegani lawan dan kawan, musuh tidak lagi takut tapi segan sebelum bertanding dengannya.
Sikap santun dan ringan menolong orang membuat sang kesatria banyak di sukai semua orang, tapi sayang ia tak bisa menemani mereka hanya pada satu tempat saja karena masih banyak negeri yang mesti diselamatkan dari kejahatan orang-orang rakus dengan tamak dengan kekuasaan ilmu kedigdayaan.
Usianya yang sudah mencapai seperempat abad, semakin menampakkan kekokohannya, tergambar pada garis-garis wajahnya yang kian jelas ketegasannya. Hampir seperempat abad pula pujian dan sanjungan dimana-mana ia terima, keharuman namanya yang diperoleh membuat ia bagai berjalan di atas angin. Dalam langkahnya, saat ini ia merasakan tak ada kekuatan dan kesaktian tokoh persilatan manapun yang lebih unggul dari pada dirinya.
Namun, di suatu hari… inilah akhir dari sebuah kisah kehebatan manusia yang terbatas.
Senja itu, di rumput hijau bak permadani terhampar, di sela-selanya tumbuh pula beberapa batang ilalang menambah hidup bentangan alam sore itu, Kesatria Putih berwajah teduh namun tegas duduk menghadap ke arah matahari tenggelam yang bersembunyi dibalik bukit yang bertanggakan lembah-lembah kecil. Awan putih kian menipis, langit biru makin terbentang, nyayian burung yang riang kembali kesangkarnya bertemu dengan anak dan keluarganya menambah suasana syahdu yang mendebarkan meskipun tak ada seorang manusia di sana. Angin semilir yang seolah sengaja dikirimkan untuk sang pendekar bermata elang, menambah gemuruh dadanya yang bertambah sesak. Saat ini, di tempat sepi ini ia merasakan tidak sendirian meski tak ada seorangpun di sana kecuali dirinya, seakan-akan ada seseorang yang hadir di sisinya tapi ia tak bisa melihat siapa kiranya yang hadir itu. Karena kehadirannya teramat dahsyat, sehingga membuat sesak nafasnya seketika itu juga. Ia palingkan pandangannya ke arah bukit yang berbaris rapi di hadapannya, namun tak menghilangkan tekanan hebat di dadanya dan kekalutan fikirannya malah tiba-tiba ia menjadi lebih kecil dan kerdil dibandingkan bukit hijau itu, ia lemparkan ke padang rumput, tiba-tiba rumput hijau itu menjelma menjai ranjau berbisa yang membuat ia ketakutan untuk menapaki perjalanan selanjutnya, dan pohon tua di samping lembah itu mengapa tiba-tiba menjadi lebih kekar dibanding dengannya, ah…mengapa semua makhluk tak bergerak di sini menjadi lebih hebat darinya?? Mengapa? Sekali lagi, ia dongakkan kepalanya ke atas menghadap langit yang tegak tinggi menjulang, akhirnya….ia pun tersungkur sujud tak berani menatap langit itu lebih lama lagi, karena langit itu tiba-tiba menjadi sangat perkasa, agung dan lebih sempurna dibandingkan dirinya yang kerdil, kecil dan lemah. Sekarang betapa lemahnya kesatria tanpa tandingan itu, ia teringat tadi malam saat ia bermalam di sebuah hutan kecil di pinggiran desa seberang, seekor nyamuk Aides aegepty telah menggigitnya bebas tanpa bersalah sehingga menimbulkan rasa sakit dan bekas merah yang gatal di kulitnya yang bersih itu, dan sakitnya hingga sekarang masih terasa. Akhirnya kini, ia pun tak tahu mengapa tiba-tiba ia harus sujud dan menumpahkan bendungan air matanya yang selama ini pantang bagi sang pendekar mengalirkan air mata dalam hidupnya, karena air mata menurutnya tanda kelemahan, tapi sore ini ketegaran yang selama ini ia pertahankan itu hancur dibawah kekerdilan diri yang menghimpitnya. Dan sungguh ia pun tak tahu kepada siapa ia bersujud,
Qs. Al-Hajj: 18
“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan yang melata dan banyak diantara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia Kehendaki”.
Tanpa sadar ia berbisik di sela-sela sujud panjang itu berdesakan dengan sesenggukan tangisnya yang mengharu…
“Wahai Kekuatan lain Yang Maha Hebat dari sekedar pengelana seperti ku, Engkaukah itu yang sejak tadi hadir di sisiku tapi aku tak bisa melihat-Mu? Apakah Engkau Yang Memiliki Kekuatan Maha Dahsyat itu, yang menjadikan semua makhluk di hadapanku menjadi lebih perkasa dari ku, aku yang selama ini pemenang sejati setiap pertempuran di medan laga melawan orang-orang rakus akan ilmu kedigdayaan semata-mata untuk kesombongan dirinya?? Jika ada makhluk lain yang tak bernyawa lebih kuat dan sakti mandraguna dari ku lalu aku ini siapa?? Ternyata selama ini aku salah menilai bahwa dirikulah yang paling sempurna dan hebat, aku tak bisa menemukan Engkau dalam hebatku…justru Hebat-Mulah Yang Maha Kekal, aku tak pernah temukan kemenangan sejati itu saat aku bertempur melawan musuh tapi Kemenangan-Mu lah Yang Maha Hakiki dan Kebenaran-Mu lah Yang Maha Adil. Ternyata ada kekuatan lain selain kekuatanku yang tak seberapa ini, Wahai Kekuatan, siapakah Engkau…? Engkaukah yang bernama Tuhan,,, yang pernah ku dengar dari seseorang yang pernah membaca sebuah kitab saktinya di awal pagi itu.
Qs. Taha: 14
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku”.
Jika Engkau yang bernama Tuhan, berarti Engkaulah Yang Menciptakanku, berarti Engkaulah Yang memberi aku kekuatan yang ku anggap hebat di hadapan para musuh, Engkau lah yang memberi aku makanan ditengah hutan belantara di saat aku lapar dan berarti Engkaulah yang menyelamatkan aku dari incaran seekor harimau lapar di siang itu saat aku istirahat melawan penatnya perjalanan. Oh Tuhan, mengapa baru kali ini aku bertemu dengan Mu, mengapa tidak dari dulu saja aku bertemu Mu. Jika ternyata Engkau lah yang melakukan semua ini, betapa tak berterimakasihnya aku kepada-Mu, …tapi Tuhan bagaimana aku dapat mengenal siapa diriMu?? Bagaimana cara aku berterimakasih selamanya kepadaMu?? Dan bagaimana caranya aku bertemu dengan Mu?
Belum lagi selesai rintihan haru itu selesai, tubuh Kesatria Putih itu jatuh ketanah gemetar hebat dan akhirnya terkulai lemah tak berdaya, dan tak bergerak lagi untuk selamanya.
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku” Qs. Al-Fajr: 27-30.
Sebuah ibrah…
Demikianlah akhir dari perjalanan seorang manusia yang mengaku dirinya hebat dan paling kuat serta berkuasa dalam dunianya. Kesatri Putih, bolehlah kalau kita meminjam nama dari kalangan tokoh dunia persilatan yang hari ini tidak mungkin kita temukan dan itu hanya ada di cerita hayalan belaka. Namun dari sebuah cerita singkat di atas tentu dengan bijak kita mampu mengambil sebuah hikmah dan pelajaran. Sebelum aku menuliskan ibrah apa yang menjadi fikiranku, tentunya anda yang membacanya dengan sangat cermat mampu menyimpulkan hikmah apa yang terkandung dalam kisah fiktif tersebut. Beberapa hikmah secara ringan dapat kita ambil sedikit.
1. Begini, siapapun kita dan apapun yang kita miliki maka semua itu hanya semu. Jika hari ini ada seseorang yang mengaku dirinya paling kuat, tinggi, hebat dan berkuasa, yakinlah itu tak akan bertahan lama sekalipun kehebatan itu untuk kebaikan apatah lagi itu untuk kejahatan. Yang membedakan hanyalah akhir dari kisah terakhir hidup seseorang tersebut.
2. Siapa yang akan diberi hidayah dan kebenaran Islam maka ia akan di mudahkan memahami Islam itu sendiri.
3. Dunia persilatan, itu hanya dongengan belaka tapi hari ini yang ada dunia adalah dunia realistis, dunia kemanusiaan, dunia moral dan dunia kepemimpinan. Maka bagi para penguasa dunia kedua(1) yang sedang berjaya hari ini ketahuilah bahwa kekuasaan itu akan bergilir. Saatnya kita yang memimpin hari ini.
4. Seorang yang mencari Tuhannya, ternyata tidak sulit jika Allah memang sudah mendekatkan hidayah itu kepadanya.
5. Terkadang Allah itu hadir di hati kita, saat kita kehilangan diri dan bertanya siapa diri kita sebenarnya. Itulah menandakan kasih dan kecintaan Allah pada hamba-Nya, tak dibiarkan kita dalam kesendirian.
6. Tidak ada makhluk yang sempurna dan kuat. Sekekar pendekar itu pun, jika Allah berkehendak terkena malaria atau DBD maka tak ada yang bisa menghalangi seekor nyamuk menggigitnya atau seekor kalajengking menyengatnya.
7. Kekuatan aqidah lah yang mendorong sesorang untuk mencari kebenaran dan mampu melumpuhkan kekuatan semu yang ada pada dirinya.
8. Masih banyak lagi toh, anda tentunya lebih hebat dari ku dalam menterjemahkan filosofi hidup yang sesingkat film lepas ini.
t-@ (lu’lu’)
Inspirasiku yang kembali kutemukan setelah 3 tahun lalu hilang…
Terimakasih kepada saudariku (Ev), yang telah member nama tokoh Kesatria Putih mungkin engkau telah lupa.
Selasa, 13 Januari 2009/18 Muharam 1430 H.
Pukul 9.45 Wib
Ternyata Mereka Lebih Kuat Dariku
Pagi itu aku pergi ke kampus seperti biasa ngisi majelis pekanan, menjelang sampai di tempat tujuanku terlebih dahulu aku mengantarkan salah seorang akhawat kekampusnya. Hari belum begitu terik masih pagi dan suasana kampus pun sepi karena jam masih kuliah, tiba-tiba di tikungan jalan 50 meter menjelang aku sampai di kampus akhawat tadi, aku diperlihatkan dengan seorang bapak membawa barang dagangannya dengan sepeda. Aku perkirakan usia bapak itu 60 an, tapi wajahnya tak ada menyiratkan pesimis meski pagi itu tak ramai mahasiswa. Tubuhnya yang ringkih serasa tak sebanding dengan beban yang dibawanya, beban hidup juga beban di atas sepedanya yang seadanya itu. Isi jualannya hanya roti bakpao..
Aku tepis fikiran-fikiran yang menimbulkan aku harus bermuhasabah saat itu, setelah mengantarkan akhawat tadi sampai ke tempat tujuannya barulah aku memulai kontemplasiku dalam kondisi mengendara. Klimaksnya muhasabah itu muncul ketika di persimpangan menuju masjid tujuanku Allah kembali memperlihatkan ibrah kembali. Seorang laki-laki tua sedang membawa dua kantong besar berisi seperti kerupuk, aku tidak tahu persis isi dalam kantong itu. Tapi ketika ku layangkan pandanganku ke wajahnya, kulihat begitu optimis dan tidak ada kelelahan seikitpun, sungguh karena ia tahu bahwa di seberang sana ada rupiah yang menantinya. Memburu secercah harapan rezeki di waktu pagi.
Akhirnya aku tak bisa menahan lagi tangisku di sepanjang perjalanan, air mata itu jatuh bebas mengiringi putaran roda Supra-X ku menuju majelis ilmu sekaligus keluarga kecil yang kubina hampir dua tahun itu. Sungguh dua bentuk pemanangan yang barusan ku saksikan adalah pelajaran teramat berharga bagiku di pagi ini. Dua orang laki-laki pencari nafkah dan rezeki untuk hidupnya harus bersusah-susah, berperas keringan bermani peluh namun wajahnya tetap ceria dan bersemangat. Tak ada kesedihan dan kemalasan ku temukan di wajah mereka. Ya Allah mengapa aku baru tersadar sekarang? Mengapa aku baru sadar bahwa usiaku yang lebih muda dari mereka dan masih kuat justeru aku tak dapat berbuat apa-apa. Tak seperti dan segigih mereka. Bapak tua itu, yang seharusnya dirumah bersama anak cucunya justeru ia selalu bergerak gigih mencari nafkah. Padahal seberapalah keuntungan yang mereka dapatkan di banding dengan peluh dan pengorbanan yang mereka lakukan di penggalan usia mereka yang semakin redup.
Begitulah, disaat kita mengira bahwa orang itu lemah, tapi sebenarnya ia adalah orang yang paling kuat dengan ujian hidup yang ia alami. Sekiranya yang diberi ujian itu adalaha aku, mungkin sudah sejak lama aku tak lagi begini dan tak bisa hidup serba tak berusaha ini apakah aku sanggup dengan kondisi begitu. Itu pula yang menyebabkan aku tak diberi ujian yang tidak aku sanggup, tapi justeru yang diberi ujian itu adalah orang-orang yang kuat menanggung hidup ini. Jelasnya dua orang bapak yang kutemui hari ini mreka lebih baik dari ku yang sudah gigih mencari nafkah. Mereka juga memberikan ibrah dan pelajaran bagiku yang juga memberikan faedah untuk ku, tapi aku tak meberikan faedah apapun untuknya. Ya Allah berikanlah ampunan kepada para orang tua yang tak lagi didampingi anaknya dan ditinggal keluarganya, ampunilah mereka yang kini menanggung hidup dan derita diakhir usia mereka, akhirkanlah hayat mereka dalam cinta dan khusnul khatimah di jalan-Mu.
t-@(lu’lu’)
tiba-tiba teringat ayah…, ya Allah jadikanlah kuburnya sebagai taman syurga di sisi-Mu.
Senin itu, di rumah sakit, 2009.
BUKAN HANYA KEMUSYRIKAN PARA DUKUN…
Aku punya kebiasaan jika di tempat keramaian seperti antrian atau di ruang tunggu suka menyapa orang di kanan kiriku walaupun aku tak mengenal mereka, resikonya tahu sendiri siap-siap di cuekin alias menerima wajah tanpa ekspresi. Kebiasaanku pula jika bertemu dengan orang yang baru kukenal, untuk membuka agar ia mau berbicara banyak aku lebih suka dan banyak bertanya bernada lugu tidak tahu. Karena umumnya type masyarakt kita adalah stabil, cuek, suka di dengar dan dimintai pendapat, jadi kufikir berperan sebagai pendengar saja lebih baik. Pagi itu di loket antrian rumah sakit, aku mengantarkan salah seorang akhawat yang mengambil resep obat rutinnya. Aku duduk di kursi panjang yang disediakan di ruang tunggu, di sampingku seorang ibu muda belum genap tigapuluh tahun duduk seorang diri tapi seperti menunggu sesorang.
“Nunggu antrian Kak..” sapa pembuka ku taburi dengan senyum.
“Ya,…” jawabnya singkat tanpa melihat ku.
“Yang sakit siapa Kak..” ku lanjutkan pertanyaanku, tak berputus asa dengan raut wajahnya yang cuek.
“Anak saya…”
“Oh..ya, sakit apa anaknya Kak.”
“Demam..” masih datar jawabannya. Aku tetap bersabar dengan jawaban-jawaban singkat itu. Aku berharap jika ada dialog, ada sesuatu yang bisa kuambil sebagai pelajaran tapi sampai detik ini aku belum bisa mengambil apa-apa dari ibu muda itu.
Tak lama kemudian, suaminya datang bersama anak perempuannya yang sedang sakit sekitar berumur 1 tahun.
“Ini anaknya yang sakit kak..”tanyaku kembali.
“He-eh, ya…” ibu itu mengangguk dan mulai tersenyum memandangku. Mungkin sejak tadi ekspresi wajahnya datar kerena mencemaskan anaknya yang tidak bersamanya. Untung aku tak berprasangka yang macam-macam.
Tiba-tiba aku melihat warna merah di kening anaknya, dalam hati aku bisa menebak itu pasti dari dukun yang katanya dibuat untuk menghilangkan demam. Wush..nama yang paling aku perangi dalam hidupku adalah si dukun, para normal, para tidak normal adalah lebih baik aku meyebutnya begitu.
“Lho kak, itu tanda apa di kening anak kakak” pancingku bertanya, meskipun aku sudah tahu jawabannya.
“Oh..itu obat keteguran(2)..”jelasnya sambil kembali tersenyum.
“Lho..katanya demam kok jadi keteguran?, demam atau keteguran nih kak” aku pura-pura bertanya bodoh. Lalu aku tak ingat lagi jawabannya sebelum ia berlalu dari hadapanku dan meninggalkan aku yang masih berfikir mencari ibrah. Mungkin jika ada yang mendengar pertanyaanku tadi memang aku dibilang orang bodoh masak sih tidak tahu istilah keteguran dan tanda merah dari kunyit itu sebagai tanda untuk mengobati keteguran. Itu fikir mereka mungkin, padahal sesungguhnya merekalah yang berada dalam pemikirannya yang bodoh dan dalam pembodohan para dukun yang selalu mengambil keuntungan dari manusia-manusia bodoh. Tapi sebenarnya aku lah seharusnya yang menyebabkan mereka tetap bodoh mengapa aku tak bisa merubah kebodohan mereka dengan menyampaikan nilai-nilai kebenaran atau lebih trendnya mendakwahi mereka. Cobalah hanya megatakan kepada ibu tadi bahwa cara menghilangkan demam denga kunyit itu tidak dibenarkan bahkan diharamkan dalam Islam saja aku tidak bisa bahkan tak sanggup.
Kisah serupa ini juga aku alami beberapa menit setelah kisah ibu diatas. Sewaktu kami masuk keruangn tunggu apotik untuk membeli obat, disampingku duduk seorang ibu yang menggedong anaknya yang sedang demam dan diare. Ketika pertanyaanku sampai kepada berapa jumlah anaknya, ia menjawab ada enam orang anaknya, yang dua orang meninggal dan satu lagi “hilang diambil orang” alias dipindahkan dukun ke perut orang lain. Ah..mengapa zaman semodern ini masih ada yang percaya dengan ocehan murahan dukun yang tak bertanggungjawab.
Inilah fenomena yang menjangkit masyarakat hari ini, orang tak bisa lagi berfikir logis jika sudah memakai rumus dukun. Professor seluas apapun keningya jika ia sudah percaya dengan mekanisme kerja dukun, maka ia tak lebih dari seonggok batu yang tak berguna. Uang yang sudah puluhan juta ia keluarkan untuk gelar doktornya tak bisa mengalahkan ilmu dukun yang tak pernah di ajarkan di bangku sekolah manapun. Selaku aktivis dakwah maka aku sangat terpanggil naluri da’I dan sekaligus tamparan pedas bagi ku, karena aku ternyata tak bisa berbuat apa-apa untuk mengentaskan kejahilan dan kerapuhan aqidah ummat hari ini. Seharusnya bukan hanya salah dukun, tapi kita juga para aktivis dakwah, para murabbi dan da’I bersalah dan lebih bersalah lagi karena tak mampu beramar ma’ruf nahi mungkar kepada masyarakat. Meminjam istilah salah satu penulis terkenal Bukan Hanya Salah Fir’aun. Kita tak mampu sampaikan kebenaran di depan mereka karena jiwa-jiwa ini ternyata pengecut dan kerdil akibat dosa-dosa dan maksiat, semuanya bisa terkalahkan dengan kebathilan yang sudah jelas-jelas dimurka Allah. Ya Allah tolonglah hamba yang lemah ini, agar mapu berbuat kebaikan selalu dan mampu memerangi kebathilan di mana saja aku berada.
t-@(lu’Lu’)
tiba-tiba menjadi orang yang tak berguna…, kerdil dan lemah. seekor semut lebih baik dari ku…
Senin itu, masih di rumah sakit.
ORANG-ORANG SENJA DAN KEGEMARAN SIA-SIA…
Perjalanan hari ini, terlaku banyak yang ku ambil sebagai ibrah dan nikmat yang layak ku syukuri. Beberapa jam aku di rumah sakit menemani akhawat mengambil obatnya, tak kusia-siakan dan ku jadikan moment untuk memperbanyak ibrah. Karena disana aku bisa melihat bermacam-macam orang dan kelakuannya, lebih dekat dengan nikmat Allah berupa kesehatan yang sangat mahal. Di rumah sakit aku juga bisa melihat bermacam jenismanusia, mulai yang tak berdaya, kritis dan sekaratul maut sampai kepada para dokter-dokternya yang dikatakan sehat secara medis. Mulai dari yang bayi baru lahir sampai orang tua renta yang hanya menuggu panggilan Allah azza wajalla.
Hari ini entah kenapa aku diperlihatkan dan diberikan cerita oleh Allah untuk selalu bertemu dengan para orang tua. Dalam jangka waktu hitungan jam, sudah tiga orang tua yang aku jumpai.
Orang tua pertama berumur 70 an tahun sebagai pedagang pena di loket karcis, yang memiliki semangat berjualan luar biasa tetapi bagian keuntungannya ia belikan untuk memenuhi kebutuhan candunya yaitu merokok, tak berapa lama aku dialog dengan nya ia mohon izin keluar ruangan untuk merokok sejenak, sungguh perbuatan yang sia-sia ini tak kenal usia manusia tua dan muda sama saja.
Orang tua kedua ku jumpai sewaktu antri di klinik dokter berumur 76 tahun. Kakek yang ini lumayan bagus dari segi pemikiran dan prinsip sudah modern, termasuk ketika ku tanya apa yang menjadi penyebab matanya menjadi rabun hingga harus di cek dan di obati di klinik mata, ia menjawab karena factor usia dan sejak dulu masih muda memang suka baca buku. Buku yang suka ia baca adalah sejarah, sejarah perjuangan dan zaman Soekarno. Tanpa ku minta ia mulai menuturkan kisahnya,
“Saya hidup ada di tiga zaman nak, zaman pertama sebelum kemerdekaan. Tahun 1942 saya sudah sekolah kelas 2 SD, akhirnya saya bergabung di TKR waktu itu. Keluar masuk hutan bersama mereka, kemudia zaman pasca kemerdekaan yang banyak terjadi pemberontakan mulai DI/TII Kartosoewiryo sampai peritiwa G/30 S PKI tahun 65, dan ketiga zaman sekarang. Semua sejarah yang di tulis tidak sesuai dengan apa yang sudah saya alami”. Begitu ia menuturkan beberapa kisah yang menjadi memoarnya itu. Tanpa terasa cerita mengalir dari tanah air hingga negara barat Amerika, Israerl dan PBB. Ia memandang begitu objektif mengenai kasus kebiadaban Israel, murni pemahaman umum yang tidak adak landasan keislaman dalam memandang negara Israel yaitu kebiadaban, kecongkakan dan kekuasaan atas tanah Palestina. Ku fikir lumayan juga wawasan bapak yang satu ini, tapi ketika cerita sampai ke pada kebiasaan merokok, ternyata ia masih memilki kebiasaan ini. Merokok belum bisa dihentikan. Wow, ternyata masih sama saja dengan bapak pertama tadi, cuma yang ini lebih berpendidikan tapi hobi sia-sianya sama saja.
Sebenarnya posisi duduk yang aku tempati tak ada scenario khusus untuk terus berjumpa dengan bapak-bapak tua itu, begitu juga tema tentang rokok juga tak pernah ku format, semua murni dan Allah jua yang ingin menunjukkan ini agar menjadi pelajaran dan hikmah agar manusia berfikir. Agar manusia tidak egois memikirkan diri sendri, adalakalnya juga memikirkan orang lain.
Kakek ketiga ku temui di apotik pengambilan resep. Bangku antrian sudah penuh di bagian depan tinggal satu bangku lagi di bagian belakang, dan ternyata di sana telah duduk seorang kakek juga. Kakek ini berumur 60 tahun, lebih muda dari dua orang kakek sebelumnya. Setelah berbasa-basi karena corak baju kami mirip, aku bertanya sakit apa dan ia jawab sakit paru-paru. Wah..pasti rokok lagi. Ternyata benar, karena kebiasaan merokok sudah ia lakukan sejak berumur 20 tahun hingga belakangan ini muntah darah dan sudah diopname dua kali selama sebulan di rumah sakit ini. Berarti sudah 40 tahun merokok, wajarlah ketika paru-paru semakin tua dan terakumulasi dengan beberapa penyakit usia senja. Sangat disayangkan sekali, umur 60 tahun seharusnya masih produktif dalam menikmati usia senjanya, tapi malah harus bersusah payah mengobati penyakitnya. Ini juga berawal dari kebiasaan sewaktu muda, jika dibiasakan hidup sehat tidak merokok, makanan sehat bersih dan halal, makanan yang bebas pengawet dan penyedap maka setidaknya penyakit juga sedikit menjangkit di usia lanjut. Begitu juga ketika di muda usia jika memilki kebiasaan-kebiasaan positive di masa produktif itu maka hal-hal yang lebih baik di waktu tua akan semakin mahir dan berdaya guna lebih dahsyat lagi. Kita lihat seperti Syaikh Yusuf Al-Qordhawi, di usia yang hampir delapan puluh tahun masih bisa menulis buku yang bisa kita nikmati hari ini, masih bisa mengeluaran fatwa tentang haramnya bersekutu dengan Yahudi laknatullah a’laih, masih bisa berlawat ke negara-negara di Asia seperti di Indonseia tahu 2008 lalu, dan yang lebih penting lagi adalah fatwa-fatwanya sangat ditakuti orang-orang kafir. Marilah berfikir, setua itu saja begitu produktif dan bermanfaat dunia akhirat apalagi waktu beliau masih muda dunia adalah ibarat dalam genggamannya.
Itulah serentetan perjalananku hari ini, mudah-mudahan dapat di jadikan ibrah dan I’tibar bagi yang membacanya terutama untuk para aktivis dakwah. Ternyata masih banyak yang harus kita sykuri setiap hari dan masih banyak yang harus kita lakukan untuk memberikan kebaikan untuk manusia. Agar kita tak sendirian di syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Agar kita berjalan tak sekedar menjalankan kaki dan menggoyangkan tangan belaka seperti ruh tanpa jasad yang berjalan. Wallahu’alam…
t-@(lu’lu’)
dikisahkan ulang di awal pagi, berjuang melawan kantuk
april 2009
AKU MELIHAT SYUKUR DI SUDUT YANG BERBEDA….
Jika orang melihat syukur itu karena kita punya anggota tubuh dan fisik yang sempurna, kini aku menilai syukur itu ketika kita bisa berfikir akan arti kesyukuran itu senidri, banyak orang yang tak terfikir untuk bersyukur setelah mengkonsumsi apa-apa yang Allah berikan pada mereka dengan penuh kesombongan dan kemunafikan.
Aku menilai syukur ketika masih bisa mengangkat tangan untuk berdoa meminta sesuatu . Mari kita lihat tangan kita saat mengangkat tangan, mengapa meminta lebih lagi sedangkan tangan yang Allah berikan untuk menadah doa saja belum kita syukuri? Masih banyak ternyata nikmat-nikmat Allah yang bertebaran belum kita sadari untuk kita syukuri, diantaranya:
Nikmat masih bisa mengucapkan Alhamdulillahirabbil a’lamin…
Nikmat di hari ini masih bisa melihat alam raya ini.
Nikmat hidup bersama orang-orang shaleh.
Nikamt hidayah, iman dan islam.
Nikmat membenci kekafiran, kedzaliman dan kemunafiqan.
Nikmat mencintai kebenaran.
Nikmat bisa sibuk dengan yang bermanfaat.
Nikmat berfikir dan mentadaburi kekuasaan ciptaan Allah.
Nikmat berada dalam jamaah dakwah ini.
Nikmat karena masih dibutuhkan orang dalam memberikan nasehat untuk kebenaran.
Nikmat masih bisa mnerima kebenaran.
Nikmat tidak bermaksiat dan dijauhkan dari osa-dosa besar.
Rasanya, nikmat-nikmat itu teramat mulia untuk kita syukuri dibandingkan dengan lantunan do’a kita yang mengharapkan limpahan harta dan jabatan semata.
Silahkan Anda menambah lagi bentuk-bentuk kenikmatan lain, berdasarkan apa yang telah Anda rasakan.
t-@(lu’lu’)
mengapa masih ada orang yang tak bisa bersyukur????
Catatan kaki:
(1) Dunia fase kedua setelah alam kandungan dan sebelum alam kematian.
(2) Istilah orang kampong, khususnya suku melayu; demam atau sakit yang disebabkan oleh jin.
BERSAMBUNG…
(cerita-cerita mini ini akan terus bersambung, selagi hidup ini masih terus bersambung pula pada episode yang berbeda…).