Rabu, 03 Juni 2009
Ikhlas
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman
yang besar." (Q.S Lukman [31]: 13)
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (Q.S An-Nahl [16]: 65)
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Q.S. Al-An’am [6]: 162-163)
Ketaatan akan bernilai, bermakna dan bermanfaat jika kita ikhlas. Keikhlasan itu hanya kita dan AllahSwt yang mengetahuinya, orang tidak mengetahuinya.
Urgensi Ikhlas dalam dakwah
Ikhlas dalam manhaj dakwah kita dimasukkan dalam bab Arkanul Bai’ah setelah pemahaman. Pemahaman ini lah yang membuat syetan tidak kuasa bertemumuka dengan Umar Ibn Khattab. Pemahaman dan keikhlasan itu membentengi dirinya dari godaan syetan. Para ulama juga meletakkan ikhlas pada awal-awal pendahuluan dari kitabnya. Contohnya pada hadist Arbain Imam Nawawi dan kitab Shahih Bukhari.
Dalam fiqh dakwah ikhlas adalah tahapan pertama untuk mencapai semboyan Allah Ghoyatuna. Kezuhudan juga merupakan cerminan dari keikhlasan. Yang dimaksud zuhud di sini adalah hal-hal yang bersifat duniawi tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitas amalnya.
Tidak ada jaminan seorang dai rusak niatnya dalam tataran dakwah. Contoh-contoh aktivitas yang akan merusak niat seorang dai antara lain :
1. Ingin tampil jadi tokoh atau dikenal di tengah masyarakat
2. Membangga-banggakan prestasi dakwah kita
3. Merasa tidak senang muslim lain mendapatkan kebaikan
4. Menuntut balas jasa (manfaat) dari amanah dakwah
5. Kritikan negatif mempengaruhi aktivitas amanah dalam dakwah
6. Tidak menerima amanah dalam tataran berjamaah
Ikhlas Itu energi Dakwah
Ikhlas itu memberikan energi dalam melakukan sesuatu. Contohnya: orang yang ikhlas dengan puasanya, beda tampilannya dengan orang yang tidak makan tapi tidak ikhlas (kelaparan). Syaikh Akhmad Yasin sangat cocok di contohkan dengan nilai keikhlasan ini. Seorang yang lumpuh, tua dan bicaranya tidak jelas bisa menyemangatkan para kaum muslimin Palestina dan membuat kekuatan Zionis Israel sangat ketakutan dengan sosok ringkih ini. Namun, energi Keikhlasan membuatnya sangat bersahaja dalam menantang Israel dan kekuatan Dunia.
Dalam dakwah kita harus ikhlas karena jamaah dakwah ini hanyalah sarana untuk mengerjakan amal saleh. Ikhlas akan menjadi fikrah sehingga amal kita menjadi produktif dan kreatif.
(kamar Kostku, Rabu, 10 Jumadil Tsani 1430 H/ 03 Juni 2009 M 20:50 Wib)
Senin, 01 Juni 2009
Kutitipkan Suratku, Agar Engkau Mau Berilmu
Kepada yang kucintai
Sahabat-sahabat di jalan dakwah
Di kampus-kampus yang penuh berkah
Assalamu;alaikum warahmatullahi wabarakatuh…..
Sahabat, pernahkah engkau meluangkan waktumu untuk beberapa jenak memandangi keagungan Allah jalla jalaaluhu di langit. Ah, mungkin engkau terlalu sibuk untuk itu. Aku Namun cobalah sekali waktu, akan ada perasaan berbeda pada hatimu, ada perasaan rendah, takjub, dan seandainya engkau tutup seluruh perasaan itu dengan seuntai tasbih, Subhanallah, tentu saja Allah akan menambahkan iman di atas imanmu.
Di antara keajaiban langit, akan kau temukan benda-benda berkilauan: bintang, bulan, sesekali meteor melintasi mega. Namun tiada yang lebih utama dalam pandangan dan menentramkan bagi perasaan, melebihi bulan ‘pabila purnama. Gemintang memang berkilauan, namun rembulan yang teduh cahayanya, senantiasa jadi pusat perhatian dan perbincangan. Begitulah sahabat, perumpamaan yang telah diberikan oleh Sang Purnama ummat ini, Rasulullah SAW:
“Kelebihan seorang ‘alim (ahli ilmu) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.” (HR Abu Dawud)
Wahai sahabat, tak inginkah kau menjadi rembulan. Teduh menerangi gulitanya peradaban zaman kiwari? Sungguh malam telah terlalu pekat. Kenistaan terjadi di penjuru negeri, bahkan merangsek ke tanah-tanah suci. Kelam itu semakin mengabut dengan tutupan awan mendung di langit peradaban. Lantas, entah setan mana yang sekonyong-konyong datang, menghembuskan kisah-kisah seram dan menakutkan, sehingga dunia kita menjadi semakin gusar. Lalu kau lihat, manusia bergelimpangan di tengah kehidupan politik, ekonomi, dan budaya yang bercampu Lumpur kekotoran. Keresahan semakin menjadi karena mata mereka yang sebenarnya berfungsi baik itu, tak kunjung bertemu dengan elemen pendukungnya: cahaya!
Sahabat, di saat seperti inilah engkau harusnya tampil. Tidak, tidak dalam wajahmu yang dulu. Bukan sebagai bintang kecil yang berkerlap-kerlip indah di langit tinggi. Itu terlalu samara, itu peran masa lalu! Engkau sekarang harus menjadi bulan, agar cahayamu tak hanya indah, tapi juga menentramkan. Untuk itulah engkau perlu banyak-banyak menyerap sinar mentari untuk ‘kau pantulkan kembali ke bumi. Sebab tak mungkin sahabat, engkau menyinari manusia tanpa dirimu dipenuhi cahaya terlebih dahulu. Umar ra berpesan, “ta’allamu qabla an tasuudu”, berilmulah sebelum engkau mengambil tanggung jawab kepemimpinan. Para ahli hikmah mengajarkan: “faqiidu syaiin lam yu’thi”, barangsiapa tak memiliki sesuatu, tiadalah ia mampu berderma kepada yang lain.
Sahabat, engkau sungguh telah memancangkan niatmu untuk menjadi anasir perubahan. Kau sebut dirimu dengan nama yang teramat gagah: Aktivis Dakwah Kampus. Sungguh gelora niat dan semangatmu itu mampu menggoncang hatiku, bahkan mungkin mampu melenyapkan gunung jadi abu. Namun kau butuh berbekal, dan bekalmu saat ini ialah ilmu.
Dengarlah petuah Nabimu:
“Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, dan mengajarkannya adalah shadaqah.Sesungguyhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya, di dunia dan di akhirat.” (HR Ar Rabii’)
Sahabat, saatnya kembali ke pangkuan halaqah-halaqah ilmu, taman-taman surga di dunia. Saatnya untuk kembali bermesraan di bawah asuhan ulama rabbani, agar semakin cerah cahaya hati. Sehingga nanti, saatnya kepadamu dituntut bakti, engkau kan berdiri, melangkah pasti. Langkah keberanian, langkah keikhlasan, langkah yang bertabur hikmah dan kebijaksanaan.
Salam cinta dari saudaramu
Andree
Minggu, 10 Mei 2009
Menjaga Dakwah dengan Kekuatan
Tulisan ini adalah inti sari dari diskusi 2 pekanan membahas Majmu’ah Rasail bersama para ustadz yang semoga ilmu mereka ditambah dan diberkahi oleh Allah Swt. Amien. Selalu terlontar kekaguman dari para ustadz ini pada pilihan kata yang digunakan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna dalam Majmu’ah Rasailnya. Seorang ustadz mengatakan bahasa yang dipakai oleh ustadz Hasan Al Banna ini adalah bahasa yang mudah di pahami oleh semua orang. Berbeda dengan tulisan Ustadz Sayyid Qutb dalam Fi zhilalil qur’annya yang begitu tinggi nilai sastranya. Namun, keistimewaan lainnya adalah bahasa itu penempatannya sangat cocok sekali dan mudah dimengerti oleh semua orang bahkan orang awam sekalipun. Intinya adalah :penulisan sederhana dengan makna yang dalam. Seperti inilah seharusnya seorang Dai menjelaskan Islam, mempermudah bukan mempersulit.
Seorang orientalist Robert Mitchel memberikan tanggapan yang menawan dalam bukunya “Masyarakat Al-Ikhwan Al-muslimun” mengenai pribadi ustadz Hasan al-Banna.”Ia berbicara dan mengungkapkan kata-kata setelah mengetahui makna yang tersembunyi dibalik kata tersebut. Sehingga kata-katanya merasuk lembut dalam perasaan, menghidupkan jiwa yang hampir mati dan menggelorakan semangat yang mulai pudar”.
Risalah yang dibahas adalah :”Kepada Apa Kami Menyeru Manusia ?” Sub Bab : “Menjaga Kebenaran Dengan Kekuatan. (Hirosatul Haqqu Bil Quwwati). Kata Hirosah artinya adalah berjaga dengan tidak tidur, piket malam, ronda. Sedangkan orangnya dinamakan Harish peronda, penjaga malam. Seorang ustadz yang lain menyambung,”mengapa ustadz Hasan al Banna tidak memakai kata Yuhafidzu misalnya, yang artinya juga menjaga. Kata Hafidz adalah orang yang menjaga hapalannya. Ini bermakna lebih umum dalam hal penjagaan. Disini nampak secara terang Ustadz. Hasan al Banna menginginkan kita memahami penjagaan dakwah seperti melakukan Hirosah di medan Perang.
Ada beberapa keutamaan seorang harish dalam beberapa hadist Rasulullah dari Kitab Riyadhusshalihin Bab Jihad :
1288. Dari Salman r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bertahan - yakni tetap berdiam dalam posnya bagi tentara -selama sehari semalam - fi-sabilillah - adalah lebih baik daripada berpuasa sebulan serta beramal ibadat di situ, jikalau ia meninggal dunia, maka diberi pahalalah amalnya yang sudah ia kerjakan, juga "diberikan pula rezekinya - yakni dalam syurga sebagaimana orang yang mati syahid - dan aman dari hal-hal yang menyebabkan fitnah -dalam kubur." (Riwayat Muslim)
1290. Dari Usman r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bertahan - tetap berdiam di posnya bagi tentara - selama sehari fi sabilillah adalah lebih baik daripada seribu hari yang selainnya itu dari beberapa tempat yang ada."
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
1294. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang lelaki dari sahabat-sahabatnya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui suatu tempat di pegunungan yang di situ terdapatlah sebuah mata air kecil dari air tawar, lalu merasa heran dengan itu - yakni ia ingin sekali menempatinya. la berkata: "Andaikata saya memencilkan diri di sini dari orang banyak, kemudian saya berdiam di sini - tentulah lebih senang. Tetapi samasekali saya tidak akan melakukan kehendakku ini sehingga saya akan meminta izin dulu kepada Rasulullah s.a.w. Hal itu disebutkan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau lakukan itu, sebab sesungguhnya berdirinya salah seorang di antara engkau semua untuk melakukan perang fi-sabilillah itu adalah lebih utama daripada shalatnya dalam rumahnya sendiri selama tujuhpuluh hari. Tidakkah engkau semua ingin kalau Allah memberikan pengampunan padamu semua serta memasukkan engkau semua daiam syurga? Untuk memperoleh itu, berperanglah engkau semua fi-sabilillah. Barangsiapa yang berperang fi-sabilillah daiam jarak waktu antara dua kali perahan susu unta - yakni sekalipun dalam waktu yang amat sebentar, wajiblah baginya itu syurga."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Alfuwaq ialah jarak waktu antara dua kali perahan susu.
1302. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ada dua macam mata yang tidak akan disentuh oleh neraka, yaitu mata yang menangis karena ketakutan kepada Allah dan mata yang pada malam hari menjaga - musuh datang - dalam melakukan peperangan fi-sabilillah."
Diriwayatkan oleh Imam Tarmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan
Kata Alquwwaah yang dipakai di risalah ini pernah digambarkan secara gambling oleh ustadz Sa’id Hawwa, kekuatan Islam itu ibarat sebuah bangunan. Ada pondasi, tiang dan atapnya yang ditopang oleh peneguh dan pengokohnya. Maka kader dakwah adalah peneguh dan pengokohnya (muayyidad) dengan melakukan dakwah dalam konteks Amar Ma’ruf Nahyi Mungkar dan Jihad. Dalam rangka menjaga umat ini.
Ada sebuah kisah menarik di zaman Khalifah Abu bakar, dalam sebuah perang Abu Ubaidah sang Panglima Islam saat itu langsung menjadi Harish dan menyuruh tidur para prajurit yang siang harinya bertempur. Lebih menarik lagi, ada pula sebagian Shabiyah yang juga Hirosah menjaga para prajurit yang di komandani oleh Asma’ Binti Abu Bakar Putri Khalifah. Sehingga istimewalah penjagaan prajurit Islam malam itu karena mereka dijaga oleh panglimanya sendiri dan Putri Khalifah. Sungguh keindahan Islam yang sangat menawan.
Sebagai Panglima di siang hari Abu Ubaidah tidak pernah tidur untuk merancang strategi perang. Malam itu ia juga tidak tidur menjaga para mujahid Islam. Kondisi seperti ini menunjukkan kekuatan yang dimiliki oleh Abu Ubaidah. Kekuatan seperti ini pulalah yang harus dipunyai oleh seorang Dai dalam menjaga dakwah dan umat ini. Dibutuhkan kekuatan ilmu dan pemahaman, ekonomi dan semua kekuatan yang mendukung itu agar kita bisa menjadi seorang harish yang kuat. Sehingga mereka dikatakan laksana rahib di malam hari dan penunggang kuda di siang hari (Rubanu bil Lail wa Fursanu bin Nahar).
Ustadz hasan Al Banna di dalam Risalahnya mengatakan :
“karena makna inilah maka para sahabat Muhammad; makhluk pilihan Allah dan pendahulu yang salih disebut dengan Julukan,’ Para rahib di malam hari, dan penunggang Kuda di siang hari. Ada dapat melihat dari mereka pada malam hari berdiri di depan mihrab dengan memegang jenggot, menggerak-gerakkan kepala seperti gerakan orang sehat, menangis seperti orang yang bersedih dan mengatakan,”Wahai dunia tipulah orang selain Aku.” Namun, begitu Fajar menyingsing, seruan jihad menggema memanggil para mujahidin, maka anda akan melihatnya bagai singa yang berada diatas punggung kudanya. Ia berteriak dengan lantang, sehingga membahana di seluruh medan peperangan.
Demi Allah, bagaimana mungkin terjadi keserasian yang mengagumkan, keharmonisan yang unik dan perpaduan yang tiada duanya, antara urusan dunia berikut segala pernak-perniknya dengan urusan akhirat dengan segenap spritualitasnya ini ? Tetapi, itulah Islam, ia mampu memadukan semua yang baik dari segala sesuatu.
Dalam teks bahasa Arabnya, Ustadz Hasan al Banna memakai kata ma’ajmala. Dalam kaidah bahasa Arab kata ini berarti li Ta’jub menyatakan kekaguman terhadap suatu keindahan. Contohnya ketika kita naik ke puncak sebuah bukit atau gunung lalu kita takjub dengan pemandangan yang indah dilereng dan lembahnya digunakan ungkapan Ma’ajmala al Manshar alangkah indahnya pemandangan ini. Kata ini ada dalam ungkapan Ustadz Hasan al Banna yang menyatakan,”Alangkah indahnya kebenaran dan kekuatan berjalan beriringan.
Maka alangkah indahnya kalau ada seorang da’I, pemimpin yang kuat akan menjaga hal-hal yang Qudus (suci) di dalam Islam semisal shalat, sahum dan tugas social lainnya. Menjaga asholah dakwah dengan kekuatan dan jihad. Dalam hal ini seorang da’I tidak mempunyai uzur untuk itu sebagaimana yang difirmankan Allah :
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah (Attaubah:41)
(Kamar Kostku, Jum’at,13 Jumadil Awal H/08 Mei 2009 M 11:29 WIB)
Senin, 04 Mei 2009
INILAH KADER YANG BAIK ITU
Ini yang mesti difahami oleh kader kami,,,
Terkadang mereka sudah merasa puas dengan hasil kerjanya seingga mereka lebih sering meminta daripada memberi. Minta perhatian khusus, minta dihargai, minta diakui, minta dipuji, tapi tidak pula minta dinasehati…, ini yang buat repot…! Terkadang ada juga kejenuhan yang dirasakan oleh kader itu sendiri, kejenuhan yang telah mencapai titik kulminasi dapat menyebabkan pemberontakan yang dapat diekspresikan melalui tindakan, misalnya merajuk, marah, berhenti sejenak atau bahkan selamanya.
Dari manakah ini bermula?? Bermula dari mana?? Tak tahu yang jelas berawal dari kebiasaan diri yang belum hilang bawaan sejak jahilnya, biasanya ini bisa diobati dengan tarbiyah yang sehat, tetapi yang parahnya lagi kebiasaan buruk dan karakter yang tidak bisa hilang meskipun tarbiyah sudah lama membentuk dirinya. Orang model seperti ini cara untuk menyembuhkannya dengan cara mu’aqobah.
Kalau mereka sadar, bahwa kader dakwah kampus selama menunaikan amanah dan pekerjaan dikampusnya itu adalah sebagai sarana latihan/tadhribat semata. Mereka belumlah teruji dengan dakwah yang sebenarnya. Mereka masih dalam tahap latihan, tetapi yang lebih istimewa adalah latihan itu diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Dan uniknya lagi, Allah itu tidak menilai pada hasil latihan tetapi menilai pada proses latihan yang dapat dinilai dengan berlipat-lipat ganjaran pahala. Karena di dalam proses itu terdapat ramua-ramuan mujarab, ramuan ikhlas dicampur tawadhu, ketaatan dan pemahaman yang benar terhadap proses. Tetapi tidaklah semua kader yang faham dengan nilai istimewanya sebuah proses tersebut. Mereka menganggap hasil adalah segala-galanya, latihan ini adalah segala-galanya sehingga tak sedikitpun terasa nikmatnya proses itu.
Apa saja yang dimaksud dengan proses latihan itu??
Apakah antunna/antum tidak menikmati bagaimana nikamatnya syuro yang ada taushiyah di dalamnya?? Apaka Anda tidak menikmati saat-saat berbeda pendapat di dalamnya?? Apakah Anda tidak menikmati saat rukhiyah Anda naik saat qiyamullail dan tilawah qur’an, jika Anda di wilayah kerja siyasi apakah Anda tidak menikmati saat aksi ditengah terik matahari dan terkena bogem satpol pamong praja??apakah Anda tahu jika esok Anda sudah selesai kuliah dan tidak dikampus ini Anda masih bisa bersama ikhwah lagi dalam suka cita dan cerita indahnya???Apakah..apakah…masih banyak lagi. Maka nikmati saja, air mata dan keringat terasa sungai syurga yang mengalir membasahai kulit kering ini yang semakin hari semakin tua lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Andai semua kader mengetahui ini seperti apa yang kami fikirkan sekarang, mereka takkan main-main dalam bekerja, selalu mengeluarkan keringat dan air mata karena kesungguhan mereka dalam bekerja. Kami sangat berterimakasih kepada kader-kader kami yang banyak membuat “dinamika” dakwah di kampus biru ini, dinamika yang banyak mengeluarkan peluh dan airmata para qiyadah kami. Hari ini kita belumlah istirahat…dan tidak akan beristirahat, istirahat yang panjang adalah kelak disyurga-Nya.
SIAPA KADER YANG BAIK ITU?
(diambil dari 10 muwashofat kader tarbiyah)
Kader yang baik itu adalah yang faham dengan konsep aqidah Islamiyah yang syumul wa mutakamil, aqidah yang bersih.
Kader yang baik itu adalah yang mempunyai ibadah yang benar, bukan sekedar ikut-ikutan tetapi atas pemahaman dan terhindar dari bid’ah dan khurafat.
Kader yang baik itu adalah yang memiliki keluhuran akhlaq, keharuman budi pekerti karena didasari oleh kefahaman.
BAGAIMANA SIFAT KADER YANG BAIK ITU?
1.kader yang baik itu selalu taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
2.kader yang baik itu selalu taat kepada pemimpinnya.
3.kader yang baik itu selalu berbakti kepada orang tuanya.
4.kader yang baik itu selalu menghormati orang yang lebih tua di atasnya.
5.kader yang baik itu selalu bertindak dari hasil pemikiran terlebih dahulu.
6.kader yang baik itu selalu meminta nasehat dan memberi nasehat.
7.kader yang baik itu selalu mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan kelompok dan pribadi.
8.kader yang baik itu selalu lebih banyak bekerja dari pada bicara dan banyak bertanya.
9.kader yang baik itu selalu merasa nyaman, aman dan puas kepada pemimpinnya.
10.kader yang baik itu selalu berusaha setiap saat memberikan karya nyata yang terbaik bagi orang banyak dari pada banyak menuntut.
11.kader yang baik itu selalu memandang amanah sebagai amal shaleh tapi bukan kompetisi kapasitas belaka.
12.kader yang baik itu selalu senang dengan kehadiran orang lain dalam kerja-kerja kejamaahan, apalagi yang lebih bagus kapasitasnya dari pada dirinya.
13.kader yang baik itu selalu sama dalam bekerja baik saat sendiri atau beramai-ramai.
14.kader yang baik itu selalu faham mana tugas jundiyah dan mana tugas qiyadah.
15.kader yang baik itu selalu memyesuaikan diri dengan wadzifah yang datang padanya, bukan wadzifah yang menyesuaikan diri dengannya.
16.kader yang baik itu selalu menempatkan diri pada posisi yang salah dihadapan pemimpinnya meskipun ia benar.
17.kader yang baik itu salalu tidak memberatkan pemimpinnya dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang bisa ia jawab sendiri.
18.kader yang baik itu selalu menjadi problem solver but not problem maker di mana dan dengan siapa saja.
19.kader yang baik itu selalu menyibukkan diri dengan koreksi keburukan sendiri dari pada melihat dan mengoreksi orang lain.
20.kader yang baik itu selalu mencintai tarbiyahnya dan menjadikan halaqah segala-galanya baginya, dan tidak ada segala-galanya tanpa halaqah.
Tipe-tipe kader dalam bekerja:
1. tipe pengkonsep/konseptor : hanya merumuskan dan merancang tujuan, sasaran, metode, membuat jadwal.
2.tipe pekerja/eksekutor ;cepat dalam bekerja, bekerja di belakang layar, bekerja berdasarkan konsep yang diberikan.
3.tipe pengkonsep dan pekerja: bias memadukan keduanya.
4.tipe panglima/leadership: pada saat dilapang ia selalu menyuruh teman rekan kerjanya, baik posisinya sama maupun posisinya tidak.
5.tipe pendidik/educator: bekerja sambil mengarahkan, mencontohkan kepada rekan yang lain baik posisinya sama maupun tidak.
6.tipe orang tua/parents: pada saat bekerja ia mengayomi dan melindungi rekan kerjanya baik posisinya sama maupun tidak.
Kita tidak sedang membicarakan siapa dan bagaimana kader yang tidak baik.
Pekanbaru, 3 Mei 2009
t-@
Ini adalah jawaban dari kami suatu saat ditanya oleh salah seoarang kader dakwah di Unri “Bagaimana ciri-ciri kader yang tidak baik itu?”…….
Minggu, 26 April 2009
SENJA ITU IA TERSENYUM PADAKU
(Senyum Terakhir Ruwaida Muthia Kepadaku)
Sebuah Ibrah; Penghancur Kenikmatan Dunia itu Bernama Kematian)
Prakata yang sulit di tuliskan…
Judul tulisan ini untuk kedua kalinya ku tulis, sama ketika aku harus kedua kalinya kehilangan orang yang aku cintai, maka judul tulisan ini sama dengan judul yang kutulis untuk ayah. Kehilangan mereka memang sangat menyakitkan, menyedihkan dan menyesakkan tapi sarat dengan pahala. Untuk itulah, sebenarnya aku bukan tak ingin menuliskan tentang mereka tapi aku tak sanggup lagi mengulang kepedihan itu, saat-saat dan detik-detik kepergian mereka yang kucintai. Setiap kali aku menuliskan ini aku harus berurai air mata terlebih dahulu, aku harus menyiapkan kondisi yang siap menghadapi luapan air mata itu. Aku pernah menuliskan seperti ini untuk ayah, detik-detik berpisah dengan ayah, tapi aku tak sanggup meneruskan tulisanku itu, aku tahu yang bermain disaat itu adalah perassaaan kesedihan bukan akal yang harus mengambil ibrah dan tambahan iman dan taqwa.
Diam)…tak tahu apa yang akan diketik..
Sejenak...
Aku pernah berfikir... baru kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup kita saja sudah begini sedihnya, belum lagi para sahabat yang kehilangan Rasulullah, pantaslah Umar berang begitu diberi kabar bahwa Rasulullah telah wafat.
Aku yakin, mereka yang telah pergi adalah orang-orang pilihan. Allah lebih sayang kepada mereka, termasuk yang hari ini mengalami ujian fisik sakit atau kehilangan materi. Allah senantiasa menjaga mereka dari kemaksiatan dan dosa, oleh karenanya Ia menjemput mereka terlebih dahulu. Allah senantiasa melindungi mereka dari zaman yang jahil dan penguasa yang dzalim karena itu Allah memanggil mereka.
Mereka punya ciri-ciri..
Orang yang cepat perginya menghadap Allah SWT, ia punya kebiasaan di luar kebiasaan orang pada umunya dan itu terlihat saat ia tidak ada lagi. Mereka punya amal khusus yang selalu diingat stetelah ia tak ada lagi. Lihatlah para ulama besar, yang hidupnya begitu berarti untuk ummat, bermanfaat bagi setiap orang, menuliskan karya mereka dalam ribuan lembar kertas dan tinta, mereka berkorban apa saja maka kelak ketika ia telah mati banyak orang yang mengenang kebaikan-kebaiknannya, tak hanya itu tapi juga kebaikan mereka menjadi amal jariyah yang diamalkan orang lain pula.
Sesungguhnya orang baik itu adalah punya amalan-amalan yang terjaga dengan keihklasannya yang terjaga pula, Allah menutupi dari riya dan kesombongan, kemudian Allah buka pada saat ia telah pergi, dan pada saat ia mengetahui bahwa amalannya itu diperlihatkan Allah kepada orang lain. Allah senantiasa menunjukkan amalan-amalan dan ibadahnya yang tersembunyi itu kepada orang lain pada saat ia tidak ada lagi di dunia. Pernahkah Anda terfikir ingin menjadi orang yang demikian?
Memoarku bersamanya...
Inilah sekelumit perjalanan dakwah ku bersama sahabat sekalugus adik dan junud dakwahku.
Aku mengenalnya di pertengahan tahun 2004 waktu awal-awal semester baru mahasiswa angkatan 2004. Menurutku ia orangnya pendiam, dan tidak banyak bicara seperti umumnya anak-anak baru yang berprediket baru sebagai mahasiswa. Ternyata aku lebih bisa mengenalnya ketika ia menjadi tanggunganku di forum tarbiyah pekanan, maka jadilah ia sebagai prajurit dakwah ku yang pertama untuk mahasiswa sengakatannya. Ia sederhana baik dalam perbuatan maupun berpakaian. Busana musliamah yang ia kenakan masih pada umumnya mahasiswa yang baru mengenal islam, bagiku tak mengapa...
Lama aku tak bisa memahami bahasanya, karena ia adalah tipe pendiam, baru bicara kalau kita yang bertanya. Tapi ternyata pendiam itu karena ia belum terbiasa dan belum begitu mengenal seseorang, kian hari semua dapat seperti kondisi yang diharapkan. Aku bisa komunikasi dengannya, dan faham dengan ”bahasanya”. Dari hasil ta’ruf beberapa bulan aku melihat pada dirinya ada potensi yang mungkin jarang dimilki orang lain, yakni kebiasaannya mengirim taushiyah, menulis dan suka dunia teknologi.
Ternyata ia suka tersenyum...
Akhirnya aku mengenalnya sebagai orang yang banyak menolong, riang, tak pernah marah, meskipun setelah itu aku baru tahu ternyata ia punya pengakit yang serius. Pernah suatu sore di tahun 2005 setelah aku pulang dari syuro. Sebelum beragkat aku sempatkan untuk mampir ke pondokannya ternyata ia sakit saat itu. Sambil bernada gurau salah satu temen satu kosnya bilang ” Mbak Intan suka dibelikan bakso tuh...?” aku tahu meski itu gurau tapi aku akan penuhi keinginannya. Begitu pulang aku singgah ke warung bakso dan aku kembali datang ke pondokannya. Kelihatannya ia senang dan riang sekali sore itu seperti tidak mengalami sakit apapun.
Begitulah hari-hari ia selalu ku temui dalam kondisi riang, cerah dan selalu tertawa meski aku menangakap kilatan kesenduan dan entah apa itu artinya.. sangat terlihat jika ia sejenak diam dan merenung. Ia selalu sembunyikan itu ketika sudah berjumpa dengan para akhawat yang lain. Sampai suatu hari di akhir tahun 2005 aku pun tak bersamanya lagi dalam syukuran iman peknanan, aku yakin ia akan lebih baik lagi bersama guru yang lain.
Ia mengukir bantak kenangan dengan tinta ukhuwah yang indah.
Pernah suatu ketika salah satu partener dakwah di ”rumah kecil” itu yang setiap pekan ia hadir terus, mengalami masalah berat dan aku mempercayakannya untuk membantu akhawat tersebut untuk kembali seperti semula. Aku lihat ia begitu berusaha mendekati dan mencarikan solusi dengan cara ukhuwah yang hangat tapi akhirnya ia bilang ”Gak bisa lagi Mbak...” sambil mengulangi kebiasaanya yaitu senyum dan tertawa.
Walaupun aku tak bersamamnya lagi dalam lingkaran syukur tiap pekannya, namun aku tetap menjadikannya anak yang baik yang selalu aku anggap sebagai ”anak”ku sendiri. Ku rasakan aku terlalu sering meminta tolong dengannya, pernah aku minta tolong browshing bahan penelitian, ia begitu berusaha aku tahu itu akhirnya ia menyerah dan aku tak ingin membebani lagi. Begitu juga saat aku akan presntasi seminar hasil penelitian jauh-jauh aku minta ia datang untuk membatu kesalahan teknis pada laptop dan infocus, atau aku juga pernah ketika butuh CD kitaro dan laptop untuk muhasabah ia pula yang begitu repot membantu dan mencarikan untuk ku ”Memang baik lah kader Mbak yang satu ni...”itu sms ku ketika aku diberi pertolongan di hari tu. ”Ndak apo-apo Mbak e...” itu jawaban smsnya dengan dialek bahasa Palembang yang sering diucapkan ketika berbicara padaku.
Terakhirnya ketika aku kehilangan charger sonny ericsson type J230i, karena ia punya dua buah maka ia begitu lapang dada untuk meminjamkannya kepadaku, sampai sekarang benda itu sangat bermanfaat untukku. Setelah kukatakan pada ahli warisnya, mereka mengatakan ambil saja sebagai tambahan amal jariyah untuknya.
Aku dan teman-teman lain seangkatannya mengenalnya sama yakni sebagai orang yang suka menjalin keakraban ukhuwah sesama akhawat dan menolong dalam kondisi apapun. Apalagi mengenai bidang-bidang yang ia gemari. Pernah suatu ketika para akhawat se fakultasnya dihebohkan dengan sms taujih gelap tanpa nama. Hampir seluruh akhawat dapat sms tersebut, tentunya kecuali aku. Beberapa teman-temannya telah mengetahui bahwa yang mengirim sms itu adalah dia, salah seorang dari mereka mengatakannya padaku bahwa dia lah pengirim sms itu, tak banyak orang yang tahu itu. Diantara akhawat yang menerima sms itu ada yang kurang senang dan berusaha mencari tahu siapa pelakunya. Smsnya bermacam-macam dan berbagai bahasa mulai dari bahasa Indonesia sampai bahasa Arab.
Sore itu, aku hendak bersilaturahim kerumah salah seorang ummahat untuk meminjam buku, dengan sengaja untuk lebih jelasnya lagi tentang sms itu aku sengaja ajak ikut ia bersilaturahim bareng. Di tengah jalan ia begitu lancar menceritakannya kepadaku bahwa ia sangat sedih dengan kondisi ukhuwah yang kian hari kian mengering dan semakin jauh. Hubungan sesama ikhwah tak lagi sengat awal-awal pertama mereka mengaenal Islam, semua sibuk dengan urusan sendiri. Maka dari itu ia mengirim sms-sms itu sebagai usaha unrtuk mengembalikan kondisi itu. Subhanallah, fikirku...jarang ada kader yang berfikir begini dan melakukan usaha-usaha mengembalikan kegersangan ukhuwah dengan cara ini.
”Ooh jadi Intan yang ngirim sms-sms itu??”
”He..he..iyo Mbak’e..”,
”Mudah-mudan ukhuwah kita bisa kembali baik ya..”
”Makasih Mbak..” senyumnya di senja itu... mengiringi perpisahanku dengannya setelah pulang silaturahim dari rumah ummahat sederhana yang kami kunjungi itu. Tak lupa aku juga mengenalkannya kepada ummhat tersebut, tapi mungkin ummahat itu telah lupa.
Itulah terakhir aku pergi bersamanya, di awal tahun 2007. Selebihnya hanya bertemu sebentar dan selisih ditengah jalan, saling klakson dan mengunjungi. Ketika aku butuh pertolongannya ia selalu sempatkan walau pun ia tak mampu sebenarnya.
Tapi ia harus pergi selamanya...
Pagi itu, pukul 10.05 wib sebuah sms masuk keponselku, seolah aku tak percaya membacanya ku ulangi lagi mungkin si pengirim ini salah ketik. Tapi ini benar-benar nama nya yang tertulis di sms bertita duka cita itu. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun... berita duka cita itu benar-benar ia yang mengalaminya, dan ia yang harus pergi selamanya meninggalkan kami yang masih hidup. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana, karena aku saat itu tak berada di tempat. Aku hanya bisa menelepon akahwat di tempat kejadian untuk mengantarkannya ke rumah dan menghubungi keluarganya. Aku betul-betul tak bisa lagi bertemu lagi dengannya walau sesaat. Tak berjumpa lagi kecuali jika Allah mempertemukan kembali di akhirat. Itu juga yang aku ingat saat aku harus mengenang ayah...ketika suatu hari aku rindu untuk berjumpa dengan ayah, aku sadar aku tak kan bisa bertemu lagi selamanya, tetapi jika Allah menghendaki pertemuan itu kelak di akhirat maka tak ada siapa yang bisa menghalanginya.
Aku jadi teringat saat mabit pengurus ar-Royyan malam itu di rumahku, pagi nya aku mengingatkannya dengan beserta seorang temannya yang kemarin nekat mengendarai sepeda motor ke luar kota dengan jarak yang lumayan jauh. Niat yang semula aku berkata serius tapi melihat wajahnya akhirnya aku tak tega untuk berkata serius dengannya, ahirnya hanya sekedar nasehat biasa.
Masih banyak tugas dakwah yang belum bisa diselesaikan bersama-samanya, perjuangan ini masih panjang tapi ia harus meninggalkan pekerjaan itu demi mematuhi panggilan yang Maha Pemberi Kehidupan. Ia tak kan pernah lagi kita jumpai saat acara pertemuan kader, tatsqif dan daurah, kita takkan menemukannya lagi ketika jabatan tangannya yang begitu erat dan hangat begitu menguatkan dirinya yang sebenarnya ia sangat lemah. Ia pun tak sempat menemui pertarungan seru pada Pemilu 9 April lalu, ia tak sempat menemukan kemenangan dakwah yang hakiki kelak, tak sempat menemui kondisi kejayaan ummat Islam, pakah kita juga menemui kondisi itu???
Begitulah, setiap pertemuan ada perpisahan, setiap kehidupan ada kematian setiap perbuatan ada pertanggungjawaban. Aku melihat kepergiannya hanya perpisahan sesaat, ia hanya mendahuliui saja ketempat yang sama yang akan kita tuju. Dan kita yang masih hidup ini pasti akan menyusulnya tapi belum tahu kapan tiba masanya dan bagaimana kondisinya..
Penghancur Kenikmatan Dunia
Siapapun engaku ingatlah saudaraku, kematian yang telah tercatat tidak dapat ditunda dan tak dapat pula dipercepat. Sesuatu yang mutlak hadir dalam hidup manusia adalah kematian...
Harta yang banyak tak satu pun yang kita bawa, rupa yang bagus pun tak berguna lagi untuk dibanggakan, jabatan yang disanjung tak lagi berfaedah untuk menolongnya...saat cacing-cacing binatang tanah lainnyaa itu melumat dan berebut tubuh kita yang selalu bermandi peluh dosa, menggigit wajah kita selalu sombong, menghisap mata kita yang selalu melihat kemaksiatan, menghancurkan mulut kita yang suka mengghibah, meremukkan segala persendian dan raga kita... dan ingat saat kedua malaikat suruhan Allah itu menghimpitkan bumi itu rata dengan tubuh kita...alangkah sakitnya, alangkah menderitanya wahai engkau manusia...
Ingatlah saat jasad lemah ini dimasukkan ke ruang sempit dan gelap itu, tak ada yang mau ikut masuk ke dalamnya, tak ada orang yang mau menemani kegelapan itu sekalipun itu orang tua dan shahabat yang paling mencintai kita... tapi hanya satu yang mau dan sangat setia mengikuti kita disaat tidak ada satu orang pun yang bersedia ikut. Dia lah yang yang menemani pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT Yang Maha Perkasa, yaitu amal shaleh yang kita buat sendiri sewaktu di dunia. Ia begitu cantik saat hadir menemani kita di ruang pengap dan menyakitkan itu. Tentunya sesuai apa yang kita kerjakan semasa hidupnya...
Dia dimata saudaranya...
Beberapa teman-temannya berkomentar tentang dirinya;
”Ia adalah teman ana waktu pertama kuliah dulu dengan gayanya yang tomboy, yang paling ana ingat darinya adalah waktu liqo’ dimesjid arfaunnas di tahun 2004 ia pake rok pertama kali warna merah, ia berlari-lari karena malu...orang nya murah hati, dewasa, menjelang kepergiannya ia agak pendiam dari biasanya”.
”Intan kemarin sering ngajak reunian liqa’ kita Mbak, tapi nggak kesampaian. Dia bilang ajaklah Mbak, kita buat reunian liqa’ kita yang pertama, makan-makan atau masak-masak, ana hanya mengiyakan tapi nggak ana laksanakan, jadi kesal kenapa nggak ana turutkan permintaannya kemarin".
Yang membuat aku sedih adalah ternyata menjelang ia pergi beberapa hari ia minta reunian ”rumah mungil” yang pertama dulu bersamaku, bersama teman-teman lain. Dan permintaan itu belum ditanggagpi serius dengan temannya tadi. Duh ukhti... hingga aku tak bisa melepas kepergianmua pun belum sempat aku bertemu wajah denganmu.
Akhawat lain juga berkomentar tentang dirinya:
”Intan hampir nggak pernah menolak siapapun yang minta tolong, ana bilang ke dia kalau dia itu soluser, selalu senyum sampai akhir hayatnya, sampai-sampai seni kematiannya pun indah nggak nyusahin orang”
”Banyak yang ana kenang dari Intan, janji kami yang belum sepenuhnya kami selesaikan. Yang paling ana ingat, muhasabah cintanya sesuai dengan NSP Hp-nya”
Engkau telah menghadapkan wajahmu di depan Rabbmu terkasih...Selamat jalan sahabatku...
Aku hanya bisa berdo’a untuk junud dakwahku yang terbaik ini, pergi dalam kondisi tetap memegang janji dan komitmen di dalam islam ini. Kepergianmua telah mengukir hasil karya rajutan ukhuwah mu, saudaramu hadir begitu ramai saat bertakziyah melihat mu terakhir kali adalah hasil sulaman cinta dan ukhuwahmu. Sungguh ukhtii begitu banyak orang yang kehilangan mu, kehilangan senyummu, dan kehilangan karyamu. Selamat jalan adikku, saudaraku, junud ku, dan selamat bertemu Rabbmu dengan hati yang tenang.
Selamat jalan ”Ruwaida Muthia”.
Pekanbaru, 24 April 2009. Pk. 22.15 wib.
T-@
Yang saat ini merindui orang-orang yang telah pergi..., nantikan kehadiranku di sana...
Mohon maaf jika menggunakan bahasa yang terlalu sentimentil dalam mengisahkannya kembali..
